• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Public Notary
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Public Notary
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Kriteria Kecakapan Subjek Hukum Terhadap Akta Jual Beli (Perspektif Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris, Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak, Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, dan Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)

    Thumbnail
    View/Open
    22921042.pdf (1.794Mb)
    Date
    2024
    Author
    Wahyuningsih, Ratna Tri
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis kriteria kecakapan subjek hukum terhadap akta jual beli dalam prespektif Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris, Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak dan Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan implikasi hukum terhadap akta jual beli yang dilakukan oleh subjek yang belum cakap hukum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode hukum normatif dengan analisis dalam kajian studi pustaka terhadap suatu permasalahan adanya konflik antara Pasal 39 ayat (1) Undang- Undang Jabatan Notaris, Pasal 7 ayat (1) Undang- undang Perkawinan, Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak dan Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hasil penelitian menunjukan kriteria kecakapan subjek hukum terhadap akta jual beli dalam Undang-Undang Jabatan Notarispaling sedikit 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah, dalam Undang-Undang Perlindungan Anak menyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, Undang- Undang Perkawinan adalah perkawinan diperbolehkan apabila baik pria maupun wanita telah berumur 19 (sembilan belas) tahun. Selain itu kriteria kecakapan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah 21 (dua puluhsatu) tahun atau sudah menikah. Implikasinya akta jual beli yang dilakukan oleh subjek hukum yang belum cakapmengakibatkan akta jual beli tersebut dapat di batalkan, karena pada dasarnya tidak memenuhi Pasal 1320 KUHPerdata mengenai syarat sahnya suatu perjanjian dapat terpenuhinya dengan adanya syarat subjektif yang menyakut kecakapan membuat perjanjian. Kesimpulan dari permasalahan di atas terdapat perbedaan pengaturan batasan usia kecakapan dalam berbagai peraturan perundang- undangan. Sehingga memicu perbedaan persepsi dan ketidakpastian hukum dalam batasan usia cakap melakukan perbuatan hukum, diperlukannya penyatuan persepsi serta harmonisasi peraturan perundang- undangan terkait definisi batasan usia kecakapan dan Implikasi hukum terhadap akta jual beli yang dilakukan oleh subjekyang belum cakap menimbulkan konsekuensi dapat dibatalkan terhadap akta-akta yang dibuat dapat dibatalkan atas kehendak salah satu pihak yang merasa dirugikan atas perjanjian dalam akta jualbeli maka subjek yang belum cakap harus memenuhi syarat subjektif perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan kriteria kecakapan subjek hukum yang diatur dalam 1330 KUHPerdata.
    URI
    dspace.uii.ac.id/123456789/50306
    Collections
    • Master of Public Notary [99]

    Related items

    Showing items related by title, author, creator and subject.

    • PERBANDINGAN PENGATURAN PEMBUBARAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN MENJADI UNDANG-UNDANG 

      Khoulud beby bestiani, 14410219 (Universitas Islam Indonesia, 2018-04-19)
      UU No.17 tahun 2013 tentang Ormas dalam perkembanganya sudah tidak memadai lagi untuk menjawab persoalan hukum yang ada sehingga Pemerintah mengeluarkan Perppu No.2 tahun 2017 tentang Ormas yang telah disahkan menjadi UU ...
    • KONFIGURASI POLITIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DALAM PROSES PERSETUJUAN PERATURAN PEMERITAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG (Studi Atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat) 

      YUKALYPTA RIDWAN, 11410095 (Universitas Islam Indonesia, 2018-09-06)
      Studi ini bertujuan untuk mengetahui bentuk konfigurasi partai politik yang terjadi dalam pembahasan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun ...
    • ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 42/PUU/XIII/2015 MENGENAI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG (DALAM STUDI PERSPEKTIF ETIKA DAN KEPASTIAN HUKUM) 

      GARNIS LEILA PUSPITA, 1410235 (Universitas Islam Indonesia, 2018-12-13)
      Studi ini bertujuan untuk mengetahui alasan diajukannya permohonan judicial review terkait Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 serta Konstruksi hukum Mahkamah Konstitusi dalam mengeluarkan putusan MK No 42/PUU/XIII/2015 dilihat ...

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV