• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    KEBIJAKAN KRIMINALISASI OBSTRUCTION OF JUSTICE SEBAGAI DELIK KORUPSI DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 jo UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

    Thumbnail
    View/Open
    skripsi lengkap(1).pdf (2.138Mb)
    Date
    2018-04-10
    Author
    ALLIVIA PUTRI GANDINI, 14410272
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Peneltian ini mengkaji tentang “Kebijakan Kriminalisasi Obstruction of Justice Sebagai Delik Korupsi dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001”. Ada 3 permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang latarbelakang adanya kebijakan kriminalisasi obstruction of justice sebagai delik korupsi dalam UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 dan juga tentang praktek penegakan hukum terhadap delik obstruction of justice. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Data penelitian dilakukan dengan cara studi dokumen/ pustaka kemudian dioleh dalam bentuk analisis deksriptif. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan yang dipadukan dengan pendekatan konseptual, pendekatan kasus dan juga pendekatan historis dalam menganalisis data dan disajikan secara kualitatif. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan kriminalisasi obstruction of justice bukan merupakan kebijakan yang baru lagi. Kebijakan tersebut pada mulanya telah diatur dalam KUHP dan slenajutnya diatur kembali dalam pasal 29 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa latarbelakang diaturnya tindak pidana obstruction of justice dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dikarenakan pengaturan tindak pidana serupa dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 dianggap sebagai pasal yang “tidur”, hal ini dikarenakan tidak pernah terdengar diterapkan oleh para penegak hukum yang dikareakan oleh perumusan tindak pidana korupsi seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 yang dalam praktiknya sering diartikan sebagai delik materiil dan juga untuk mempermudah proses peradilan dan menghindarikan dari segala bentuk hambatan yang dapat menghambat tujuan dari dibentuknya undang-undang tersebut sehingga terciptanya proses peradilan yang berkeadilan.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/6692
    Collections
    • Law [3376]

    Related items

    Showing items related by title, author, creator and subject.

    • PERBANDINGAN PENGATURAN PEMBUBARAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN MENJADI UNDANG-UNDANG 

      Khoulud beby bestiani, 14410219 (Universitas Islam Indonesia, 2018-04-19)
      UU No.17 tahun 2013 tentang Ormas dalam perkembanganya sudah tidak memadai lagi untuk menjawab persoalan hukum yang ada sehingga Pemerintah mengeluarkan Perppu No.2 tahun 2017 tentang Ormas yang telah disahkan menjadi UU ...
    • KONFIGURASI POLITIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DALAM PROSES PERSETUJUAN PERATURAN PEMERITAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG (Studi Atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat) 

      YUKALYPTA RIDWAN, 11410095 (Universitas Islam Indonesia, 2018-09-06)
      Studi ini bertujuan untuk mengetahui bentuk konfigurasi partai politik yang terjadi dalam pembahasan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun ...
    • ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 42/PUU/XIII/2015 MENGENAI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG (DALAM STUDI PERSPEKTIF ETIKA DAN KEPASTIAN HUKUM) 

      GARNIS LEILA PUSPITA, 1410235 (Universitas Islam Indonesia, 2018-12-13)
      Studi ini bertujuan untuk mengetahui alasan diajukannya permohonan judicial review terkait Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 serta Konstruksi hukum Mahkamah Konstitusi dalam mengeluarkan putusan MK No 42/PUU/XIII/2015 dilihat ...

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV