• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    KEBERTERIMAAN AMIL ZAKAT DI DI YOGYAKARTA ATAS HEGEMONI NEGARA DALAM PENGELOLAAN ZAKAT MELALUI UU NO 23 TAHUN 2011

    Thumbnail
    View/Open
    MUHAMAD NASRUDIN-ilovepdf-compressed.pdf (2.178Mb)
    Date
    2015-02-04
    Author
    MUHAMAD NASRUDIN, 09912461
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Merupakan anomali ketika amil zakat yang selama beberapa tahun melalui FOZ ingin agar negara lebih perhatian kepada zakat, tetapi justru menolak UU Nomor 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat padahal UU a quo memberikan menuntut negara berperan banyak dalam pengelolaan zakat, bahkan sebagai aktor utama. Keberterimaan amil zakat di berbagai kota terhadap UUPZ 23/2011 bernada negatif. UU a quo dipandang akan menghancurkan Lembaga Amil Zakat dan mensentralisir zakat ke BAZNAS. Merupakan sebuah anomali ketika aktivis zakat di DI Yogyakarta, kota yang selama ini dikenal bertabur orang cerdas, melek media, kuat membaca, pintar berdiskusi tetapi tiba-tiba senyap, tidak ada reaksi apa pun yang terendus media terhadap pengesahan UUPZ 23/2011. Anomali inilah yang berusaha dijawab oleh tesis ini. Bagaimanakah keberterimaan amil zakat di DI Yogyakarta terhadap hegemoni negara dalam pengelolaan zakat melalui UUPZ 23/2011? Penulis mewawancarai 11 (sebelas) amil zakat di 10 (sepuluh) lembaga zakat dengan menggunakan piranti teori interaksionisme simbolik, hermeneutika, dan analisis wacana. Hasil wawancara ini kemudian dikonstruksi menurut masingmasing lembaga. Mereka sepakat negara berhak mengelola zakat. Hal ini mengacu pada argumentasi (i) teologis, bahwa Tuhan memerintahkan begitu; (ii) sosiologis bahwa negara adalah hasil kontrak sosial yang harus memenuhi kebutuhan warganya, termasuk zakat; dan (iii) historis, dalam sejarah Islam klasik, aktor penglola zakat adalah negara. Sebaliknya, mereka mengekspresikan keberterimaan yang cenderung negatif terhadap hegemoni negara. Ragam ekspresi ini bisa diurutkan: (i) sangat ideal tapi kondisi tidak ideal (Jumarsono); (ii) semangatnya positif (Zakse) (iii) menertibkan dan melindungi (Yusuf Wibisono); (iv) tidak memuaskan semua pihak (Yusuf Wibisono); (v) merepotkan (Jamilludin); (vi) membatasi (Syahroini); (vii) mensubordinasi (Ajeng Rahadini); (viii) mengawasi dan mengontrol (Dai Iskandar); (ix) menekan (April Purwanto); (x) mendominasi dan menghegemoni (Zakse); (xi) merugikan (Istiawan dan Didik); dan (xii) membunuh (Utami Varalin) amil zakat LAZ.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/9080
    Collections
    • Master of Law [1560]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV