Analisis Optimalisasi Rantai Pasokan Biomassa di Bagian Hulu pada PT. Bakti Energi Sejahtera
Abstract
Penelitian ini mengevaluasi efektivitas manajemen rantai pasok biomassa
pada PT. Bakti Energi Sejahtera (PT BEST) dalam mendukung program co-firing
di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sebagai salah satu pilar transisi energi
baru terbarukan di Indonesia, pengelolaan komoditas hijau ini menghadapi
tantangan operasional yang kompleks, mulai dari fluktuasi pasokan bahan baku
organik hulu hingga ketatnya standardisasi parameter nilai kalor dan kadar air
(moisture content) di sisi hilir. Masalah diperparah oleh kerentanan jalur logistik
transportasi darat dan laut serta belum optimalnya sinkronisasi data perencanaan
korporasi. Melalui pendedahan masalah ini, studi bermaksud mengidentifikasi
kendala utama sekaligus merumuskan strategi integratif guna mengoptimalkan
kontinuitas pasokan dan efisiensi operasional secara berkelanjutan.
Guna membedah fenomena tersebut, penelitian ini menerapkan pendekatan
kombinasi terintegrasi (integrated mixed-method approach) dengan desain studi
kasus deskriptif analitis. Peneliti memetakan aliran rantai pasok dari hulu ke hilir
dengan menjadikan aktivitas transaksional antara PT BEST dan mitra penyuplai
utamanya, PT. Semesta Rahayu Lestari, sebagai unit analisis. Data kuantitatif
operasional berupa target volume tahunan dalam Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP) serta spesifikasi teknis digital dari sistem PLN EPI diposisikan
sebagai tolok ukur performa ideal. Angka-angka tersebut kemudian
dikonfrontasikan dan divalidasi silang menggunakan data kualitatif yang dihimpun
melalui observasi lapangan terstruktur serta wawancara mendalam bersama empat
informan kunci, termasuk Manajer Operasional PT BEST dan perwakilan
manajemen mitra hulu.
Hasil analisis menunjukkan adanya benturan regulasi internal di mana target
kuantitatif tahunan yang kaku dari manajemen hilir tidak selaras dengan kapabilitas
kualitatif lapangan di tingkat hulu yang sangat bergantung pada musim. Selama
musim penghujan, proses pengeringan bahan baku oleh pengepul lokal terhambat,
yang memicu lonjakan kadar air material melebihi ambang batas kepatuhan PLTU
dan berujung pada tingginya tingkat penolakan (rejection rate) pengiriman.
viii
Ketidakpastian cuaca dan hambatan infrastruktur jalan raya juga mengakibatkan
keterlambatan armada logistik, sehingga memicu penumpukan risiko persediaan
(buffer stock) yang tidak seimbang dan harus dipikul secara mandiri oleh mitra hulu
tanpa adanya jaminan kontrak jangka panjang yang transparan. Kendati dihadapkan
pada hambatan teknis, aktivitas operasional ini terbukti berhasil membangun
ekosistem ekonomi sirkular yang memberikan dampak multiplier positif bagi
kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Kebaruan ilmiah dari Tugas Akhir ini terletak pada pendekatan integratifnya
yang secara langsung mempertemukan target makro bisnis korporasi dengan
resiliensi operasional riil di lapangan. Sebagai solusi taktis dan strategis, studi ini
merumuskan sebuah kerangka kerja manajemen rantai pasok yang tangkas
(adaptive agility) melalui pembagian risiko persediaan yang adil (win-win
inventory). Formula ini mengombinasikan standardisasi skrining mutu mandiri di
tingkat pemasok untuk menekan biaya pemborosan, perhitungan cadangan waktu
logistik (buffer time) selama 3 jam untuk memitigasi keterlambatan jalan raya, serta
komitmen transparansi rencana kebutuhan kuota jangka panjang guna memberikan
jaminan pasar bagi mitra hulu. Dengan demikian, optimalisasi ini tidak hanya
meningkatkan daya saing perusahaan melalui efisiensi biaya, tetapi juga
memperkuat legitimasi sosial bisnis dalam menyokong target nasional net zero
emissions.
Collections
- Management [5688]
