| dc.description.abstract | Penelitian ini berangkat dari perubahan
praktik rias wajah perempuan yang semula bersifat seremonial menjadi bagian dari rutinitas
harian. Dalam perkembangan tersebut, konsumsi kosmetik tidak lagi sekadar berfungsi
estetis, melainkan menjadi bagian dari mekanisme yang membentuk dan mengatur tubuh
perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik konsumsi
kosmetik bekerja sebagai bentuk pendisiplinan tubuh serta bagaimana tubuh perempuan
berfungsi sebagai media representasi nilai-nilai industri kecantikan. Metode yang digunakan
adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Michel Foucault.
Data diperoleh melalui wawancara terhadap perempuan di Yogyakarta yang aktif
menggunakan kosmetik dalam kesehariannya, seperti model, penyanyi, content creator, dan
mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik konsumsi kosmetik berlangsung
sebagai mekanisme disiplin tubuh melalui rutinitas rias harian, internalisasi standar
kecantikan, serta penyesuaian diri perempuan terhadap tuntutan sosial dan profesional.
Kosmetik tidak hanya digunakan sebagai alat mempercantik, tetapi juga sebagai instrumen
yang mengatur cara tubuh perempuan ditampilkan dan dinilai. Selain itu, tubuh perempuan
tidak hanya menjadi objek disiplin, tetapi juga berfungsi sebagai media tempat norma, nilai,
dan standar kecantikan diaktualisasikan melalui praktik rias sehari-hari. Melalui tubuh,
pesan-pesan kecantikan yang diproduksi industri tidak berhenti pada media atau iklan,
melainkan terus beredar dalam kehidupan sosial melalui penampilan tubuh itu sendiri.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa praktik rias dan konsumsi kosmetik
merupakan bagian dari mekanisme kekuasaan yang bekerja secara halus melalui tubuh.
Dalam proses tersebut, tubuh perempuan berfungsi sebagai media yang memungkinkan
berlangsungnya pendisiplinan sekaligus reproduksi nilai-nilai industri kecantikan dalam
kehidupan sehari-hari. | en_US |