| dc.description.abstract | Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telah mempengaruhi pembentukan
citra destinasi wisata melalui konten visual yang tersebar secara cepat dan masif. Kuta
Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata menjadi salah satu destinasi
yang banyak direpresentasikan melalui konten TikTok, mulai dari panorama pantai, budaya
lokal, hingga event internasional seperti MotoGP. Namun demikian, representasi yang
ditampilkan di media sosial tidak selalu sepenuhnya sesuai dengan realitas yang dialami
masyarakat lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
resepsi masyarakat lokal terhadap citra Kuta Mandalika melalui konten TikTok.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Analisis penelitian menggunakan teori resepsi Stuart Hall melalui model encoding-decoding
untuk melihat posisi pembacaan audiens terhadap pesan media, serta pemikiran David
Morley untuk memahami pengaruh pengalaman sosial dan konsumsi media terhadap proses
pemaknaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap
delapan informan masyarakat lokal Kuta Mandalika yang aktif menggunakan TikTok.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan berada pada posisi
dominant dengan menerima representasi Kuta Mandalika sebagai kawasan wisata yang indah,
modern, dan berkembang. Sementara itu, beberapa informan berada pada posisi negotiated
karena menyadari bahwa konten TikTok lebih banyak menampilkan sisi estetis kawasan
wisata dan tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sosial masyarakat lokal. Penelitian ini
tidak menemukan posisi oppositional karena secara umum masyarakat tetap menerima
representasi Mandalika sebagai citra positif yang menguntungkan sektor pariwisata. Faktor
yang mempengaruhi resepsi informan meliputi pengalaman konsumsi media, intensitas
penggunaan TikTok, paparan algoritma FYP, serta kedekatan informan terhadap kawasan
wisata Mandalika. | en_US |