| dc.description.abstract | Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menyimpan
potensi zakat nasional mencapai Rp327 triliun, namun realisasi penghimpunannya
baru menyentuh sekitar 10% dari angka tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan transaksi
digital payment tumbuh pesat hingga 43,45% (yoy) pada Triwulan IV 2023, namun
peningkatan ini tidak berbanding lurus dengan adopsi ZIS berbasis digital di
kalangan generasi muda. Kesenjangan inilah yang mendorong penelitian ini untuk
mengidentifikasi determinan keputusan mahasiswa Universitas Islam Indonesia
(UII) dalam mengadopsi layanan ZIS berbasis digital payment. Penelitian ini
mengadopsi kerangka model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology
(UTAUT2) yang dimodifikasi dengan penambahan variabel Religiosity (RE),
mengintegrasikan variabel Perceived Risk (PR), Trust (TR), Personal Innovativeness
(PI), dan Adoption Readiness (AR) sebagai prediktor terhadap Behavioral Intention
(BI). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui
kuesioner daring yang disebarkan kepada 102 mahasiswa UII sebagai responden,
dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Partial
Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak
SmartPLS. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan: (1) Perceived Risk berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Trust, berlawanan arah dengan hipotesis awal,
mengindikasikan bahwa kesadaran risiko mendorong mahasiswa untuk memilih
platform terpercaya secara lebih selektif; (2) Personal Innovativeness berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Adoption Readiness; (3) Adoption Readiness
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention; sementara (4)
Perceived Risk, (5) Personal Innovativeness, (6) Trust, dan (7) Religiosity tidak
berpengaruh signifikan secara langsung terhadap Behavioral Intention. Temuan ini
mengimplikasikan bahwa strategi peningkatan adopsi ZIS digital sebaiknya
diprioritaskan pada penguatan kesiapan adopsi (perceived ease of use, perceived
usefulness, facilitating condition, dan social influence), bukan semata-mata pada
mitigasi risiko, kampanye kepercayaan, atau pendekatan religius normatif. Penelitian
ini berkontribusi secara teoritis dengan memperluas model UTAUT2 dalam konteks
filantropi Islam digital, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi BAZNAS,
lembaga amil zakat, dan pengembang platform ZIS digital di Indonesia. | en_US |