Fenomena Konsumsi Minuman Keras Di Kalangan Supir Bus Po Buah Hijau Trans: Tinjauan Perspektif Interaksi Sosial George Herbert Mead
Abstract
Fenomena konsumsi minuman keras di kalangan sopir bus merupakan realitas sosial
yang tidak dapat dipahami semata-mata sebagai perilaku menyimpang individu. Dalam
lingkungan kerja transportasi darat yang ditandai oleh tekanan kerja tinggi, jam kerja tidak
menentu, kelelahan fisik, serta kuatnya relasi antarsesama sopir, konsumsi minuman keras
sering hadir sebagai bagian dari dinamika sosial kelompok. Di PO Buah Hijau Trans,
kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan alkohol sebagai zat konsumsi, tetapi juga
berhubungan dengan suasana kebersamaan, solidaritas, dan cara para sopir memaknai
pengalaman kerja mereka dalam keseharian.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini berfokus pada dua permasalahan utama,
yaitu bagaimana makna konsumsi minuman keras menurut sopir bus PO Buah Hijau dan
bagaimana interaksi antarkomunitas sopir membentuk makna tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk memahami makna sosial konsumsi minuman keras dalam kehidupan sehari-
hari sopir bus melalui perspektif interaksi simbolik George Herbert Mead. Dengan
pendekatan tersebut, perilaku minum dipahami bukan hanya sebagai tindakan personal,
melainkan sebagai hasil proses komunikasi, penafsiran, dan pembentukan makna dalam
kelompok sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam paradigma konstruktivisme
untuk menggali realitas sosial sebagaimana dipahami oleh para sopir sebagai subjek
penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sopir bus PO Buah
Hijau Trans yang dipilih secara purposive, serta didukung oleh observasi dan dokumentasi.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara interpretatif dengan menekankan pada
pemaknaan sosial yang muncul dalam interaksi sehari-hari, khususnya melalui konsep mind,
self, dan society dalam teori George Herbert Mead.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman keras di kalangan sopir PO
Buah Hijau Trans dimaknai sebagai sarana pelepas penat, media mencairkan obrolan, simbol
kedekatan, serta bentuk solidaritas kelompok. Kebiasaan ini juga berfungsi sebagai
mekanisme integrasi sosial, terutama dalam tradisi penyambutan sopir baru, perayaan
tertentu, dan kegiatan kumpul bersama seperti karaoke. Melalui konsep mind, self, dan
society, penelitian ini menemukan bahwa perilaku minum tidak dipahami para sopir sebagai
tindakan negatif semata, melainkan sebagai konstruksi sosial yang dibentuk, dinegosiasikan,
dan dipertahankan melalui interaksi simbolik dalam komunitas kerja mereka. Dengan
demikian, konsumsi minuman keras dalam konteks ini merupakan praktik sosial yang sarat
makna dan terkait erat dengan identitas kolektif para sopir.
Collections
- Communication [1517]
