Show simple item record

dc.contributor.authorHusaini, Muhammad Fakhry
dc.date.accessioned2026-07-04T02:34:36Z
dc.date.available2026-07-04T02:34:36Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/64014
dc.description.abstractPendidikan inklusif di Yogyakarta menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan penyeleggaraan dengan kebutuhan nyata pengembangan kompetensi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Meskipun sistem pendidikan inklusif telah diterapkan, praktik di lapangan masih menghadapi tantangan dalam membangun komunikasi yang efektif dan kolaboratif antara kepala sekolah, guru, dan orang tua. Dalam konteks ini, komunikasi pemberdayaan menjadi pendekatan penting untuk menjembatani kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika komunikasi pemberdayaan serta menganalisis strategi yang digunakan oleh stakeholder pendidikan dalam mengembangan kompetensi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), khusus di SD Tumbuh 1 Yogyakarta dan SD Negeri 1 Salakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Objek penelitian adalah SD Tumbuh 1 Yogyakarta dan SD Negeri 1 Salakan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan 2 kepala sekolah, 3 guru, dan 1 orang tua. Teknik analisis data menggunakan model analisis Miles Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian, dan memverifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika komunikasi pemberdayaan terbentuk melalui interaksi dialogis yang menekankan pada pemahaman karakter individu siswa, pemberian afirmasi, serta keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan. Strategi komunikasi pemberdayaan diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran reflektif, program kolaboratif, serta penciptaan ruang ekspresi yang mendorong kepercayaan diri dan kompetensi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Temuan tersebut merefleksikan konsep dialogis dalam teori Paulo Freire yang menekankan komunikasi sebagai proses pembebasan, serta selaras dengan tangga partisipasi Arnstein yang menunjukkan pergeseran partisipasi dari tahap tokenism menuju kemitraan aktif. Dengan demikian, komunikasi pemberdayaan tidak hanya berfungsi sebagai sarana interaksi, tetapi juga sebagai strategi transformasional dalam membangun pendidikan inklusif yang partisipatif dan berkelanjutan.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKomunikasi Pemberdayaanen_US
dc.subjectPendidikan Inklusifen_US
dc.subjectSekolah Inklusifen_US
dc.subjectSiswa Berkebutuhan Khususen_US
dc.subjectKomunikasi Pendidikanen_US
dc.titleKomunikasi Pemberdayaan untuk Pengembangan Kompetensi Siswa Sekolah Inklusif di Yogyakartaen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22321232


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record