Komunikasi Pemberdayaan untuk Pengembangan Kompetensi Siswa Sekolah Inklusif di Yogyakarta
Abstract
Pendidikan inklusif di Yogyakarta menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan
penyeleggaraan dengan kebutuhan nyata pengembangan kompetensi Anak Berkebutuhan
Khusus (ABK). Meskipun sistem pendidikan inklusif telah diterapkan, praktik di lapangan
masih menghadapi tantangan dalam membangun komunikasi yang efektif dan kolaboratif
antara kepala sekolah, guru, dan orang tua. Dalam konteks ini, komunikasi pemberdayaan
menjadi pendekatan penting untuk menjembatani kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika komunikasi pemberdayaan
serta menganalisis strategi yang digunakan oleh stakeholder pendidikan dalam
mengembangan kompetensi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), khusus di SD Tumbuh 1
Yogyakarta dan SD Negeri 1 Salakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan studi kasus. Objek penelitian adalah SD Tumbuh 1 Yogyakarta dan SD Negeri
1 Salakan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam
dengan 2 kepala sekolah, 3 guru, dan 1 orang tua. Teknik analisis data menggunakan model
analisis Miles Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian, dan memverifikasi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika komunikasi pemberdayaan terbentuk melalui
interaksi dialogis yang menekankan pada pemahaman karakter individu siswa, pemberian
afirmasi, serta keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan. Strategi komunikasi
pemberdayaan diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran reflektif, program kolaboratif,
serta penciptaan ruang ekspresi yang mendorong kepercayaan diri dan kompetensi Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK). Temuan tersebut merefleksikan konsep dialogis dalam teori
Paulo Freire yang menekankan komunikasi sebagai proses pembebasan, serta selaras dengan
tangga partisipasi Arnstein yang menunjukkan pergeseran partisipasi dari tahap tokenism
menuju kemitraan aktif. Dengan demikian, komunikasi pemberdayaan tidak hanya berfungsi
sebagai sarana interaksi, tetapi juga sebagai strategi transformasional dalam membangun
pendidikan inklusif yang partisipatif dan berkelanjutan.
Collections
- Communication [1460]
