Show simple item record

dc.contributor.authorDarma, Akhmad Bayu Eka
dc.date.accessioned2026-05-05T06:06:16Z
dc.date.available2026-05-05T06:06:16Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/62055
dc.description.abstractPersaingan industri kuliner di Yogyakarta yang semakin ketat mendorong pelaku usaha untuk berinovasi dalam membangun identitas merek agar mampu bertahan di tengah perubahan perilaku konsumen. Bloomery Patisserie, sebagai salah satu pelaku industri dessert premium, melakukan strategi rebranding pada tahun 2024 untuk memperkuat citra merek dan meningkatkan kesadaran merek (brand awareness) di kalangan konsumen muda. Rebranding dilakukan karena citra merek lama dinilai belum merepresentasikan karakter Bloomery sebagai modern dessert brand yang berorientasi pada pengalaman emosional pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi rebranding Bloomery Patisserie dalam meningkatkan brand awareness di Yogyakarta, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam proses pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pemilik, manajer, serta enam konsumen dari berbagai outlet di Yogyakarta dan sekitarnya. Keabsahan data diperkuat menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan informasi dari pihak internal dan eksternal perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi rebranding Bloomery Patisserie berhasil meningkatkan brand awareness konsumen melalui pembaruan identitas visual (logo, warna, dan kemasan), konsistensi komunikasi digital, serta penggunaan narasi emosional dengan tagline “Agent of Joy.” Rebranding ini memperkuat brand recognition dan brand recall, sehingga Bloomery menjadi salah satu merek top of mind di kategori dessert lokal. Faktor pendukung rebranding meliputi kekuatan desain visual, keselarasan komunikasi antar platform digital, serta pemahaman terhadap tren konsumen Gen Z yang mengutamakan nilai estetik dan emosional. Sementara itu, faktor penghambatnya mencakup keterbatasan anggaran promosi, perbedaan ide antar tim kreatif, serta resistensi sebagian pelanggan lama terhadap tampilan baru. Secara teoretis, hasil penelitian ini memperkuat konsep Customer-Based Brand Equity (Kotler & Keller, 2016) yang menekankan pentingnya konsistensi pengalaman merek dalam membangun kesadaran dan loyalitas konsumen. Rebranding yang dilakukan Bloomery Patisserie terbukti tidak hanya memperbarui identitas visual, tetapi juga membangun hubungan emosional yang lebih kuat antara merek dan konsumen, sehingga mampu meningkatkan daya saing di industri kuliner kreatif Yogyakarta.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectRebrandingen_US
dc.subjectStrategi Komunikasien_US
dc.subjectBrand Awarenessen_US
dc.subjectBloomery Patisserieen_US
dc.subjectYogyakartaen_US
dc.titleStrategi Rebranding Bloomery Patisserie dalam Meningkatkan Brand Awareness di Yogyakartaen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20321104


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record