| dc.description.abstract | Penelitian ini menganalisis kedudukan hukum perjanjian pemanfaatan tanah kas
desa dengan skema bangun serah guna berdasarkan Pergub DIY Nomor 34 Tahun
2017. Dengan menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan
perundang-undangan, sosiologi hukum, dan kasus, penelitian ini menyimpulkan
bahwa perjanjian tersebut memiliki sifat unik dan multidimensional. Secara yuridis,
perjanjian ini bersifat hybrid karena berada pada persimpangan antara hukum
perdata, hukum administrasi, dan hukum adat. Di satu sisi, sebagai perikatan, ia
tunduk pada prinsip-prinsip hukum perdata, khususnya syarat sahnya perjanjian. Di
sisi lain, karena objeknya adalah aset publik yang dikelola badan hukum publik,
perjanjian ini wajib memenuhi ketentuan imperatif dan prosedur administratif
dalam Pergub DIY 34/2017, sehingga memiliki karakteristik publik yang kuat.
Perlindungan hukum bagi konsumen apabila perjanjian dibatalkan pengadilan
merupakan konstruksi hukum kompleks yang bersumber dari interaksi dan
ketegangan antara hukum perdata, administrasi, agraria, dan perlindungan
konsumen. Status yuridis perjanjian yang dibatalkan, apakah batal demi hukum
(null and void) atau dapat dibatalkan (voidable), menjadi determinan utama yang
berdampak fundamental pada hak restitusi dan ganti rugi konsumen. | en_US |