Show simple item record

dc.contributor.authorSaputra, Muhammad Zidan Ardea
dc.date.accessioned2026-02-03T07:22:24Z
dc.date.available2026-02-03T07:22:24Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/60163
dc.description.abstractYogyakarta sebagai kota pelajar menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang etnis yang beragam. Keberagaman tersebut membawa dinamika sosial dan budaya yang unik, namun juga dapat menimbulkan gejala culture shock atau gegar budaya pada mahasiswa perantau yang belum terbiasa dengan nilai, norma, dan kebiasaan masyarakat Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk culture shock serta strategi adaptasi yang digunakan mahasiswa beda etnis luar kota selama proses penyesuaian diri di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap delapan mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berasal dari berbagai latar belakang daerah dan etnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa culture shock dialami mahasiswa dalam bentuk perbedaan bahasa, norma sosial, gaya komunikasi, kebiasaan sehari-hari, dan cita rasa makanan. Masa krisis atau struggling period umumnya berlangsung selama dua hingga empat bulan pertama, di mana mahasiswa mengalami kebingungan budaya dan tekanan emosional. Namun, seiring waktu, mereka mulai membangun strategi adaptasi seperti penggunaan mix language (campuran Bahasa Indonesia dan Jawa), keterlibatan dalam kegiatan kampus, serta dukungan sosial dari teman sebaya dan masyarakat sekitar. Penelitian ini juga menemukan bahwa salah satu narasumber, AL (nama disamarkan) (asal Balikpapan, etnis Banjar), dinilai pasif dan tidak menunjukkan partisipasi aktif dalam proses wawancara sehingga tidak dimasukkan dalam analisis akhir. Secara keseluruhan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa proses adaptasi mahasiswa perantau berlangsung sesuai model U-Curve Lysgaard, yaitu melalui empat tahapan: honeymoon, crisis, recovery, dan adjustment. Pengalaman menghadapi perbedaan budaya tidak hanya membentuk ketahanan sosial, tetapi juga meningkatkan empati, toleransi, dan kemampuan komunikasi lintas budaya mahasiswa.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectCulture Shocken_US
dc.subjectMahasiswa Perantauen_US
dc.subjectAdaptasi Budayaen_US
dc.subjectKomunikasi Antarbudayaen_US
dc.subjectEtnisen_US
dc.titleCulture Shock Mahasiswa Beda Etnis Luar Kota Yang Kuliah di Yogyakarta (Studi Kasus Mahasiswa Yogyakarta)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21321002


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record