| dc.description.abstract | Yogyakarta sebagai kota pelajar menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai daerah di
Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang etnis yang beragam. Keberagaman
tersebut membawa dinamika sosial dan budaya yang unik, namun juga dapat menimbulkan
gejala culture shock atau gegar budaya pada mahasiswa perantau yang belum terbiasa dengan
nilai, norma, dan kebiasaan masyarakat Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi bentuk-bentuk culture shock serta strategi adaptasi yang digunakan mahasiswa
beda etnis luar kota selama proses penyesuaian diri di Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh
melalui wawancara mendalam terhadap delapan mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
(UII) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berasal dari berbagai latar belakang daerah
dan etnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa culture shock dialami mahasiswa dalam bentuk
perbedaan bahasa, norma sosial, gaya komunikasi, kebiasaan sehari-hari, dan cita rasa makanan.
Masa krisis atau struggling period umumnya berlangsung selama dua hingga empat bulan
pertama, di mana mahasiswa mengalami kebingungan budaya dan tekanan emosional. Namun,
seiring waktu, mereka mulai membangun strategi adaptasi seperti penggunaan mix language
(campuran Bahasa Indonesia dan Jawa), keterlibatan dalam kegiatan kampus, serta dukungan
sosial dari teman sebaya dan masyarakat sekitar.
Penelitian ini juga menemukan bahwa salah satu narasumber, AL (nama disamarkan) (asal
Balikpapan, etnis Banjar), dinilai pasif dan tidak menunjukkan partisipasi aktif dalam proses
wawancara sehingga tidak dimasukkan dalam analisis akhir. Secara keseluruhan, hasil
penelitian memperlihatkan bahwa proses adaptasi mahasiswa perantau berlangsung sesuai
model U-Curve Lysgaard, yaitu melalui empat tahapan: honeymoon, crisis, recovery, dan
adjustment. Pengalaman menghadapi perbedaan budaya tidak hanya membentuk ketahanan
sosial, tetapi juga meningkatkan empati, toleransi, dan kemampuan komunikasi lintas budaya
mahasiswa. | en_US |