| dc.description.abstract | Komunikasi pemasaran terpadu (Integrated Marketing Communication/IMC)
telah banyak dikaji pada berbagai objek, baik perusahaan jasa, produk, maupun destinasi
wisata, namun penerapannya di Museum Sonobudoyo belum pernah diteliti secara khusus
dan mendalam. Penelitian terdahulu umumnya hanya menyoroti strategi pemasaran
museum secara umum tanpa mengulas integrasi elemen-elemen IMC, sehingga penelitian
ini memiliki celah untuk memberikan kontribusi melalui analisis penerapan IMC dalam
memperkuat posisi Museum Sonobudoyo sebagai destinasi wisata budaya. Museum
Sonobudoyo sendiri memiliki peran strategis dalam pelestarian sejarah peradaban
sekaligus fungsi edukasi bagi masyarakat, namun menghadapi persaingan industri
pariwisata yang menuntut strategi komunikasi pemasaran terpadu yang efektif guna
meningkatkan daya tarik dan jumlah pengunjung. Untuk itu, penelitian ini menggunakan
metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara
mendalam, observasi lapangan, serta penelusuran literatur dan sumber daring, dengan
informan penelitian sebanyak sembilan orang yang terdiri atas Kepala Seksi Bimbingan,
Informasi, dan Preparasi; Kepala Seksi Koleksi, Konservasi, dan Dokumentasi; staf
pengelola museum; serta enam pengunjung domestik Museum Sonobudoyo. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa museum telah melaksanakan strategi komunikasi
pemasaran terpadu melalui penerapan konsep STP dan bauran pemasaran 4P.
Implementasi IMC tercermin pada periklanan berbayar, promosi penjualan berupa tiket
gratis, penyelenggaraan kegiatan kebudayaan, hubungan dengan masyarakat, serta
pemanfaatan media digital seperti Instagram, Facebook, TikTok, X, dan website. Dari
tujuh elemen IMC, personal selling tidak ditemukan karena tidak ada aktivitas promosi
tatap muka langsung. Dengan kombinasi strategi yang ada, Museum Sonobudoyo berhasil
memperkuat citra dan meningkatkan daya tarik sebagai destinasi wisata budaya. | en_US |