Show simple item record

dc.contributor.authorQonita, Nadia
dc.date.accessioned2025-12-22T03:38:50Z
dc.date.available2025-12-22T03:38:50Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/59233
dc.description.abstractBeauty privilege merupakan fenomena pemberian hak istimewa kepada seseorang berdasarkan penampilan fisik. Fenomena ini memberikan banyak dampak positif dan negatif kepada perempuan yang mengalaminya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan peran perilaku komunikasi verbal dan nonverbal yang dialami perempuan muda di Yogyakarta terkait konteks beauty privilege. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Husserl. Subjek penelitian ini adalah fenomena beauty privilege di Yogyakarta, dan yang menjadi objeknya adalah perempuan usia 20 tahunan yang memiliki pengalaman beauty privilege di Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, dan dianalisis menggunakan tahapan metode fenomenologi. Tahapan analisis data fenomenologi meliputi tahap awal, cluster of meaning, horizonalization, dan deskripsi esensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 bentuk perlakuan yang dialami yaitu perlakuan positif dan negatif secara verbal dan nonverbal. Peneliti telah mengklasifikasikan beberapa perlakuan verbal positif yaitu pujian berlebih, panggilan spesial, dan pengakuan sosial, sedangkan perlakuan verbal negatifnya yaitu komentar merendahkan dan hinaan fisik. Kemudian untuk klasifikasi perlakuan nonverbal positifnya yaitu pemberian fasilitas dan kenyamanan, pemberian bantuan, dan diutamakan di lingkungan sosialnya, sedangkan perlakuan nonverbal negatifnya yaitu mendapatkan penolakan dalam interaksi sosial, dan tidak dihargai/pengabaian. Peneliti juga menemukan keunikan atau temuan baru di mana terdapat ketidakmutlakan beauty privilege, yang menunjukkan bahwa beauty privilege tidak bersifat mutlak dan tidak universal, tetapi tergantung konteks, situasi, bersifat relatif dan tidak statis. Artinya perempuan yang memenuhi standar kecantikan tidak selalu mendapat perlakuan positif, begitupun sebaliknya, perempuan yang belum memenuhi standar kecantikan tidak selalu mendapat perlakuan negatif.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectBeauty Privilegeen_US
dc.subjectFenomenologien_US
dc.subjectStandar Kecantikanen_US
dc.subjectKomunikasi Verbalen_US
dc.subjectKomunikasi Nonverbalen_US
dc.titlePengalaman Komunikasi Verbal dan Nonverbal Perempuan Muda di Yogyakarta Terkait Fenomena Beauty Privilegeen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21321056


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record