| dc.description.abstract | Pemilu merupakan arena di mana pemasaran politik berperan krusial dalam menentukan
keberhasilan kandidat atau partai. Komunikasi pemasaran politik mencakup aktivitas strategis
untuk meningkatkan wawasan, sikap, dan perilaku pemilih secara efektif. Di Kabupaten
Magelang, PDI-P dan PKB konsisten menempati peringkat teratas dalam pemilu daerah.
Penelitian ini membandingkan strategi pemasaran politik kedua partai berdasarkan teori Vankov
(2013), yang membagi strategi pemasaran politik ke dalam tiga kategori: Selling Oriented
Political Marketing, Instrumentally Political Marketing, dan Relational Political Marketing.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara terhadap calon
legislatif, tim sukses, dan pemilih untuk memahami pendekatan kampanye masing-masing
partai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKB cenderung menerapkan strategi
Instrumentally Political Marketing dengan kampanye yang menargetkan komunitas berbasis
agama, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Sebaliknya, PDI-P lebih banyak menerapkan
Relational Political Marketing dengan membangun komunikasi inklusif untuk menjangkau
berbagai segmen masyarakat. Meski keduanya menggunakan komunikasi politik yang dialogis
dan interaktif, PKB mengandalkan jaringan tradisional, sedangkan PDI-P lebih fleksibel
menyesuaikan strategi dengan dinamika politik.
Secara keseluruhan, strategi pemasaran politik PKB dan PDI-P mencerminkan
perbedaan ideologi dan basis pemilih. PKB, yang berakar pada komunitas NU, fokus pada
pertukaran jangka pendek sesuai dengan pendekatan Instrumentally Political Marketing. PDI-
P, dengan ideologi nasionalis, mengutamakan hubungan jangka panjang melalui Relational
Political Marketing, memungkinkan interaksi luas dan komunikasi dua arah yang lebih efektif.
Meskipun strategi utama berbeda, kedua partai memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun
loyalitas pemilih dan memperkuat hubungan dengan masyarakat melalui komunikasi politik
strategis yang berbasis pada kebutuhan pemilih. | en_US |