Fragile Masculinity dalam Film “seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” dan Film “Yowis Ben”
Abstract
Seorang laki-laki sering kali dianggap sebagai (mahluk sosial) sebagai sebuah
bentuk yang dapat melakukan berbagai hal yang tidak dapat dilakukan oleh perempuan.
Salah satunya dengan bertarung Seorang pria dapat menjadi maskulin saat memiliki
perilaku, peran, atribut dan kejantanan yang ia tampilkan, seperti layaknya ia tidak
berjalan dengan lemah gemulai, tidak berdandan layaknya wanita. Masyarakat menilai
bahwa secara garis besar kultural laki-laki harus memperlihatkan sisi maskulin. Atas
demikian, maka diperlukan mencari representasi maskulinitas dan supaya pesan yang
disampaikan dapat tercurahkan kepada penonton tentang bagaimana sebuah makna
maskulinitas yang rapuh. Dalam penelitian ini akan melihat bentuk maskulinitas yang
rapuh melalui Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Film Yowis Ben.
Dalam penelitian ini peneliti ingin meneliti tentang maskulinitas yang rapuh pada
kedua film ini melalui metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Roland
Barthes dengan mencari makna denotasi, konotasi, dan mitos yang ada pada tipa potongan
scene dengan bentuk screenshot. Kemudian hasil penelitian yang ditemukan adalah
terdapat dua perbedaan yang berada pada kedua film. Film Seperti Dendam Rindu Harus
Dibayar Tuntas memiliki tokoh Ajo Kawir yang memiliki kelainan penyakit karena
mengalami trauma saat kecil hingga harus berusaha mengembalikanya saat dewasa. Yang
kedua Film Yowis Ben dengan tokoh utama Bayu digambarkan sebagai laki-laki yang
memiliki kehidupan yang sederhana dan memiliki tanggung jawab yang besar sebagai
anak tunggal. Bayu tidak bertarung dalam scene yang ditampilkan namun ia memiliki
jiwa yang besar dikehidupannya.
Collections
- Communication [1409]
