| dc.description.abstract | Secara ideal, setiap individu seharusnya menikmati hak dan kesempatan yang
setara dalam mengejar impian dan potensi mereka. Namun, dalam praktiknya, prinsip
ini sering kali terabaikan, dengan diskriminasi dan intimidasi yang terus menerpa
kelompok tertentu akibat pandangan dan stereotip mendalam dalam masyarakat, baik
di tingkat lokal maupun global. Bias gender, khususnya terhadap perempuan, adalah
salah satu bentuk diskriminasi yang paling mencolok. Perempuan sering kali menjadi
korban perlakuan seksis dan misoginis dari laki-laki yang merasa superior,
mengakibatkan perempuan ditempatkan dalam posisi tidak setara dengan hak serta
kesempatan mereka yang sering kali terbatas.
Film Don't Worry Darling menawarkan penggambaran yang kuat tentang isu-
isu seksisme dan misogini khususnya dalam konteks berumah tangga. Dengan
pendekatan dramatis, film ini menggambarkan dinamika kekuasaan gender dan
ketidaksetaraan antara suami dan istri. Melalui adegan dan dialognya, film ini
menyoroti bagaimana perempuan diperlakukan secara seksis dan dimarginalkan,
memperlihatkan manifestasi misogini yang memperkuat stereotip gender tradisional.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika
Charles Sanders Peirce, menerapkan model trikotomi tanda (sign, object, dan
interpretant). Fokus kajian mencakup enam adegan dalam film Don't Worry Darling.
Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini dengan jelas memperlihatkan empat isu
seksisme dan dua isu misogini didalamnya. Film ini memperkuat stereotip gender
tradisional dan menggambarkan ketidaksetaraan gender dalam hubungan antar
karakter. Peran dan tanggung jawab dalam rumah tangga ditetapkan secara sepihak
oleh laki-laki, tanpa mempertimbangkan keinginan perempuan secara adil.
Pandangan yang membedakan fungsi gender ini memberikan dampak besar pada
dinamika hubungan suami-istri, mencerminkan ketidakadilan mendalam dalam
struktur patriarki. | en_US |