Penggunaan Tone Indicator dalam Pencegahan Miskomunikasi di Media Sosial Twitter/X
Abstract
Lingkungan media sosial berbasis teks seperti Twitter/X memiliki beberapa faktor
yang menjadikannya rawan untuk terjadi miskomunikasi. Interaksi yang terjadi tanpa
adanya penyampaian ekspresi dan nada bicara secara langsung dapat menimbulkan
kesalahpahaman. Kesalahan dalam proses interpretasi pesan dapat memberikan makna
ganda pada pesan yang disampaikan secara teks. Munculnya tone indicator sebagai simbol
penekanan nada bicara dalam sebuah pesan teks. Penelitian ini memiliki tujuan untuk
mengkaji cara pengaplikasian tone indicator dan konsekuensi yang didapatkan oleh
audiens dalam penggunaannya. Analisis dilakukan dengan mendalami pengalaman audiens
dalam penggunaan tone indicator dan bagaimana respons yang didapatkan setelahnya.
Metode analisis kualitatif digunakan untuk mendalami reaksi dan konsekuensi yang
didapatkan oleh audiens. Responden dipilih melalui teknik purposive sampling dengan
mengambil tujuh narasumber dengan kriteria yang sesuai untuk penelitian. Empat
narasumber secara aktif masih terlibat dalam aktivitas komunitas, dua narasumber tidak
aktif, dan satu narasumber bukan merupakan pengguna aktif Twitter. Analisis penelitian
dilakukan dengan metode analisis deskriptif untuk mendalami pengalaman responden
dalam menggunakan tone indicator. Hasil penelitian ini, yaitu kebermanfaatan tone
indicator turut dirasakan oleh audiens lain dalam sebuah komunitas. Audiens secara umum
turut merasakan manfaat simbol tone indicator dalam meminimalisasi kemungkinan
terjadinya miskomunikasi. Tone indicator menjadi salah satu cara atau pilihan dalam
interaksi atau komunikasi yang terjadi secara tekstual. Dibutuhkan pencarian secara
mandiri untuk dapat mengetahui fungsi dan cara pengaplikasian setiap simbolnya untuk
dapat dipahami sebelum digunakan.
Collections
- Communication [1422]
