Show simple item record

dc.contributor.advisorHoly Rafika Dhona, S.I.Kom., M.A.
dc.contributor.authorSalma Qowiyatun N., 15321182
dc.date.accessioned2020-02-28T07:32:33Z
dc.date.available2020-02-28T07:32:33Z
dc.date.issued2019-11-26
dc.identifier.urihttp://dspace.uii.ac.id/123456789/18512
dc.description.abstractSuku Baduy merupakan suku yang dikenal sebagai komunitas yang taat kepada kepercayaannya. Kepercayaan yang mereka anut yaitu slam sunda wiwitan. Kepercayaan tersebut salah satunya direalisasikan dengan ritual pemujaan Arca Domas di tempat yang dirahasiakan oleh orang Baduy karena dianggap suci dan sakral. Selain itu, agama atau kepercayaan sunda wiwitan di realisasikan dengan adanya norma dan adat masyarakat berupa buyut (larangan) dan pikukuh (aturan) yang harus dipatuhi pengikutnya. Secara umum mereka yang berpindah agama otomatis keluar dan sudah tidak diakui lagi sebagai orang Baduy. Mereka akan terusir dari tanah ulayat, kemudian menempati pemukimanpemukiman di luar desa Kanekes. Uniknya, terdapat satu kampung yang terletak di kawasan suku Baduy namun seluruh warganya beragama islam dan diharuskan untuk mengikuti adat dengan menjalankan pikukuh dan buyut. Kampung tersebut yaitu kampung Cicakal Girang. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ruang sebagai produk sosial dapat berubah-ubah dan orang-orang dengan kekuasan dan dominasi memiliki kontrol dalam pembentukan atau pengkonstruksian ruang dengan koneksi. Kampung Muslim Cicakal Girang diproduksi melalui koneksi dan adanya resistensi masyarakat kampung tersebut terhadap dominasi adat. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis wacana kritis Foucault yang melihat adanya keterkaitan makna dalam teks dengan pengetahuan dan kekuasaan yang bekerja melalui interaksi, relasi dan jaringan dari sebuah relasi. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting. Produksi ruang kampung muslim Cicakal Girang melalui koneksi dapat terlihat dari sejarah munculnya kampung Cicakal Girang. Kampung muslim Cicakal Girang tidak muncul dengan sendirinya, melainkan karena adanya peraturan pada masa pemerintahan Kesultanan Banten. Kampung Cicakal Girang menjadi ruang baru yang memiliki fungsi penting sebagai penjembabatan atau penghubung antara pemerintahan adat Baduy dan Pemerintahan Kesultanan Banten, bahkan pemerintahan Banten yang berlaku saat ini. Masyarakat kampung Cicakal Girang memaknai peraturan adat yang diberlakukan kepada mereka sebagai sebuah alat dominasi yang mana mengungkung mereka untuk maju dan mendapat penghidupan yang layak. Hal tersebut memicu munculnya resistensi, baik berupa hiden transcript maupun publick transcript.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKomunikasi Geografien_US
dc.subjectProduksi Ruangen_US
dc.subjectKoneksien_US
dc.subjectDominasi Adaten_US
dc.subjectResistensien_US
dc.titleProduksi Ruang Kampung Muslim Cicakal Girang di Tanah Ulayat Baduyen_US
dc.typeThesisen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record