| dc.description.abstract | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya intensitas perdebatan
publik terkait rencana pemberian Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) kepada
perguruan tinggi dalam konteks revisi Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU
Minerba). Wacana ini memunculkan beragam respons dari aktor negara, akademisi,
hingga masyarakat sipil, sehingga menjadi isu strategis yang tidak hanya berkaitan
dengan kebijakan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek etika, lingkungan, dan
independensi pendidikan tinggi. Dalam situasi tersebut, media massa memiliki peran
penting dalam membentuk konstruksi realitas melalui cara mereka membingkai
(Framing) informasi kepada publik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis bagaimana media online Kompas.com, Tempo.co, dan CNN Indonesia
membingkai isu pemberian izin tambang kepada perguruan tinggi. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing model
Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, yang menitikberatkan pada empat struktur
analisis, yaitu sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Melalui pendekatan ini, penelitian
berupaya mengungkap bagaimana struktur teks berita disusun, bagaimana alur cerita
dibangun, tema apa yang ditonjolkan, serta bagaimana pilihan bahasa digunakan untuk
memperkuat makna tertentu. Periode pemberitaan yang dianalisis mencakup rentang
waktu 20 Januari 2025 hingga 22 Februari 2025, dengan total 25 judul berita yang
terdiri dari 10 berita dari Kompas.com, 10 berita dari Tempo.co, dan 5 berita dari CNN
Indonesia. Pemilihan media ini didasarkan pada posisi ketiganya sebagai media arus
utama yang memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk opini publik di
Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kecenderungan framing di
antara ketiga media tersebut. Kompas.com cenderung menyajikan berita secara
deskriptif, kronologis, dan relatif netral dengan menekankan aspek prosedural serta
alur kebijakan, sehingga menghadirkan kesan objektivitas dan keseimbangan
informasi. Sementara itu, Tempo.co lebih menonjolkan pendekatan kritis dengan
memberikan ruang yang lebih besar pada suara oposisi, analisis normatif, serta
penekanan pada implikasi kebijakan terhadap demokrasi, lingkungan, dan
independensi akademik. Di sisi lain, CNN Indonesia cenderung membingkai isu ini
dengan menonjolkan aspek kontroversi dan konflik antaraktor, sehingga memperkuat
dimensi polemik dalam pemberitaan. Perbedaan framing tersebut menunjukkan bahwa
media tidak bersifat netral sepenuhnya, melainkan memiliki kecenderungan perspektif
masing-masing dalam mengonstruksi realitas sosial, khususnya dalam isu kebijakan
publik yang kompleks seperti pemberian izin tambang kepada perguruan tinggi. | en_US |