• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Analisis Yuridis Penggunaan AI sebagai Organ Negara dalam Menangani Transnational Organized Crime of Corruption di Albania Menurut Hukum Internasional

    Thumbnail
    View/Open
    22410285_Daftar Pustaka.pdf (306.1Kb)
    22410285_BAB 1.pdf (469.3Kb)
    22410285.pdf (5.159Mb)
    Date
    2026
    Author
    Abelio, Marco
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Penunjukan sistem kecerdasan buatan (AI) bernama Diella sebagai Menteri Negara Urusan Kecerdasan Buatan di Albania pada September 2025 merupakan fenomena tanpa preseden dalam hukum internasional. Penelitian ini menganalisis kedudukan dan legitimasi AI sebagai organ negara serta pertanggungjawaban negara (state responsibility) atas tindakan AI dalam penanganan kejahatan terorganisir korupsi transnasional menurut hukum internasional. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, penelitian ini berpijak pada Articles on Responsibility of States for Internationally Wrongful Acts (ARSIWA) 2001, UNCAC 2003, UNTOC 2000, serta EU AI Act 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan interpretasi progresif atas Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 5 ARSIWA, Diella dapat dikualifikasikan sebagai organ negara karena menjalankan fungsi governmental authority (pengawasan pengadaan publik dan deteksi korupsi) atas nama Albania. Commentary ARSIWA yang menggunakan frasa inklusif "any person or entity" membuka ruang atribusi bagi entitas non-manusia. Lebih lanjut, karena AI tidak memiliki legal personality, segala tindakan Diella tetap diatribusikan kepada Albania berdasarkan Pasal 4, 5, dan 8 ARSIWA. Apabila penggunaan AI menimbulkan pelanggaran hukum internasional (misalnya diskriminasi algoritmik atau kesalahan identifikasi transaksi lintas negara), Albania wajib memberikan full reparation berupa cessation, guarantees of non-repetition, restitusi, kompensasi, dan satisfaction. Selain itu, Albania juga terikat kewajiban due diligence dalam tiga tahap: pre- deployment (audit bias), operasional (human-in-the-loop), dan post-incident (pelaporan dan akses investigasi).
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/123456789/66339
    Collections
    • Law [3916]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV