| dc.description.abstract | UNESCO mencatat hanya 0,001% penduduk Indonesia yang memiliki kebiasaan
membaca atau sekitar 1 dari 1.000 orang yang gemar membaca. Selain itu, hasil penelitian
World’s Most Literate Nations Ranked yang dirilis oleh Central Connecticut State
University pada Maret 2016 juga menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara
dalam hal minat baca. Rendahnya tingkat literasi tersebut mendorong hadirnya komunitas
literasi seperti Sobo Maos sebagai ruang alternatif untuk membangun kembali budaya
membaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan
komunitas Sobo Maos serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan yang
dihadapi saat pelaksanaannya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teori
mengenai strategi komunikasi dan perencanaan kampanye. Hasil penelitian yang ditemukan
yaitu, strategi komunikasi yang dijalankan komunitas Sobo Maos dilakukan secara adaptif
dengan memperhatikan unsur pengirim, pesan, saluran, penerima, pengaruh, dan umpan
balik. Pengurus komunitas berperan sebagai pengirim pesan secara kolaboratif dengan
membangun pesan bahwa membaca bukan hanya sekadar aktivitas individual, melainkan
pengalaman sosial yang menyenangkan dan inklusif. Strategi komunikasi Komunitas Sobo
Maos yaitu dengan kolaborasi, penyelenggaraan event, pemanfaatan WhatsApp Group, dan
pengelolaan perpustakaan komunitas. Faktor pendukung strategi ini meliputi kegiatan yang
dilakukan dengan rutin dan konsisten, identitas komunitas, serta dukungan jejaring
kolaborasi, sedangkan faktor penghambatnya adalah keterbatasan sumber daya manusia,
variasi konten digital, dan tantangan regenerasi relawan dalam menjaga keberlanjutan
program. | en_US |