Show simple item record

dc.contributor.authorDewanto, Athar Haitami
dc.date.accessioned2026-05-23T07:17:50Z
dc.date.available2026-05-23T07:17:50Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/62960
dc.description.abstractPondasi tiang berfungsi menyalurkan beban struktur ke lapisan tanah yang lebih dalam dan memiliki daya dukung yang memadai. Selain memenuhi persyaratan daya dukung, perencanaan pondasi juga harus memperhatikan besarnya penurunan agar kinerja struktur tetap berada dalam batas yang diizinkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan daya dukung serta penurunan pondasi tiang bor dan pondasi tiang pancang berdasarkan data Standard Penetration Test (SPT) pada proyek pembangunan Jalan Tol Solo–Yogyakarta–NYIA Kulon Progo Seksi 2 Paket 2.2 B titik P45. Metode penelitian meliputi analisis daya dukung dan penurunan pondasi berdasarkan data SPT yang telah dikoreksi menjadi N60. Analisis daya dukung pondasi tiang bor dilakukan menggunakan metode Reese and Wright dan Meyerhof, sedangkan pondasi tiang pancang dianalisis menggunakan metode Meyerhof dan Luciano Decourt. Analisis penurunan dilakukan pada kondisi tiang tunggal dan tiang kelompok dengan menggunakan metode empiris serta pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak PLAXIS 2D. Variasi diameter tiang yang ditinjau adalah 1,2 m, 1,0 m, dan 0,8 m dengan jumlah tiang yang disesuaikan pada setiap konfigurasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh konfigurasi pondasi tiang kelompok telah memenuhi beban aksial struktur sebesar 6496,403 ton. Pada diameter 1,2 m dengan 21 tiang, daya dukung pondasi tiang bor sebesar 12319,375 ton menurut metode Reese and Wright dan 26196,447 ton menurut metode Meyerhof, sedangkan pondasi tiang pancang menghasilkan daya dukung sebesar 26203,066 ton (Meyerhof) dan 20.480,711 ton (Luciano Decourt), dengan hasil uji PDA pada tiang bor sebesar 12527,171 ton yang mendekati metode Reese and Wright. Penurunan tiang tunggal pada pondasi tiang bor tercatat sebesar 1,64 cm, 1,87 cm, dan 1,86 cm untuk diameter 1,2 m, 1,0 m, dan 0,8 m, sedangkan pada pondasi tiang pancang sebesar 1,54 cm, 1,68 cm, dan 1,62 cm pada diameter yang sama. Pada pondasi tiang kelompok, metode empiris menghasilkan penurunan pada tiang bor sebesar 4,24 cm, 5,29 cm, dan 5,87 cm, sementara hasil PLAXIS 2D sebesar 3,672 cm, 3,672 cm, dan 6,841 cm, sedangkan pada pondasi tiang pancang diperoleh penurunan empiris sebesar 3,99 cm, 4,74 cm, dan 5,12 cm, serta hasil PLAXIS 2D sebesar 3,656 cm, 3,654 cm, dan 6,779 cm, yang seluruhnya masih berada dalam batas penurunan yang dapat diterima untuk mendukung kinerja struktur. Pondasi tiang pancang umumnya menghasilkan daya dukung yang lebih besar dan penurunan yang lebih kecil dibandingkan pondasi tiang bor karena proses pemancangan meningkatkan kepadatan tanah dan kekakuan sistem pondasi. Namun demikian, pondasi tiang bor menunjukkan kesesuaian yang lebih baik terhadap hasil uji lapangan (PDA), sehingga dinilai lebih merepresentasikan kondisi aktual tanah di lokasi penelitian.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectPondasi Tiang Boren_US
dc.subjectPondasi Tiang Pancangen_US
dc.subjectStandard Penetration Test (SPT)en_US
dc.subjectDaya Dukungen_US
dc.subjectPenurunan Pondasien_US
dc.titleAnalisis Perbandingan Daya Dukung dan Penurunan Pondasi Tiang Bor dan Pondasi Tiang Pancang Berdasarkan Data SPT (Studi Kasus: Proyek Tol Solo-Yogya-NYIA Seksi 2 Paket 2.2 B)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21511008


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record