| dc.description.abstract | Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemik di wilayah
tropis seperti Indonesia, dengan DKI Jakarta sebagai salah satu daerah dengan pola
kasus yang fluktuatif. Peningkatan kasus DBD dipengaruhi oleh faktor iklim,
seperti suhu, curah hujan, kelembapan, dan lama penyinaran matahari, yang
mempercepat siklus hidup nyamuk serta proses transmisi virus. Model
kompartemen dasar seperti SIR-UV mampu menggambarkan mekanisme
penularan antara manusia dan vektor, namun masih memiliki keterbatasan dalam
menangkap pengaruh faktor eksternal yang bersifat nonlinier serta dinamika spasial
antarwilayah.Penelitian ini mengombinasikan model SIR-UV dengan pendekatan
Random Forest dan Time Varying Copula untuk meningkatkan analisis dan prediksi
DBD di DKI Jakarta. Model SIR-UV digunakan untuk mengestimasi laju gigitan
nyamuk B(t), Random Forest diterapkan untuk memodelkan pengaruh variabel
iklim terhadap dinamika penularan, serta Time Varying Copula untuk menganalisis
ketergantungan dinamis antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai
B(t) berada pada kisaran 0,70 hingga 1,05 dengan pola fluktuasi musiman yang
relatif stabil, di mana Jakarta Timur memiliki dinamika paling tinggi dan Jakarta
Pusat paling stabil. Model Random Forest default memberikan performa prediksi
terbaik, dengan salah satu nilai RMSE testing sebesar 0,011 dan SA Score 0,012.
Analisis Time Varying Clayton Copula mengungkap adanya dependensi
antarwilayah yang berubah dari waktu ke waktu. Penerapan Error Correction
mampu menurunkan RMSE secara signifikan, misalnya pada Jakarta Utara dari
44,43 menjadi 18,65. Integrasi ketiga pendekatan ini memberikan pemahaman yang
lebih komprehensif terhadap dinamika DBD di DKI Jakarta serta mendukung
pengembangan sistem peringatan dini yang lebih efektif. | en_US |