| dc.description.abstract | Perkembangan industri PLTU pasca pandemi COVID-19 telah mendorong
peningkatan signifikan dalam konsumsi energi. PLTU masih sangat bergantung
pada batubara sebagai sumber energi utama. Proses pembakaran batubara
menghasilkan residu padat berupa Bottom Ash, yang tonasenya terus meningkat.
Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi tonase pengangkutan Bottom Ash pada
periode 2021 hingga 2023 guna mendukung perencanaan logistik dan pengelolaan
limbah yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dalam penelitian ini menggunakan
metode Recurrent Neural Network (RNN), yang dikenal efektif dalam menganalisis
data deret waktu (time series). Data historis Bottom Ash yang digunakan telah
melalui proses normalisasi, dan model diuji dengan berbagai kombinasi parameter,
termasuk fungsi aktivasi, metode optimasi, jumlah epoch, dan learning rate. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa metode optimasi Stochastic Gradient Descent
(SGD) memberikan hasil prediksi terbaik dibandingkan metode lain seperti
AdaGrad. Fungsi aktivasi Tanh menunjukkan kinerja paling stabil dan akurat pada
data pengujian, sementara Gompertz unggul pada data pelatihan dan Logistik
menghasilkan performa terendah. Jumlah epoch optimal berada pada angka 750,
menghasilkan kesalahan prediksi terendah, sedangkan jumlah epoch yang terlalu
sedikit menyebabkan underfitting. Selain itu, learning rate sebesar 0.2 terbukti
memberikan performa terbaik dengan nilai SMAPE dan RMSE terendah,
sedangkan learning rate sebesar 0.9 menunjukkan hasil prediksi terburuk karena
ketidakstabilan dalam proses pembelajaran. | en_US |