| dc.description.abstract | Film animasi The Little Mermaid rilis pada tahun 1989, kemudian pada tahun 2023 The Walt
Disney merilis versi live action. Namun, The Little Mermaid versi live action menimbulkan
kontroversi. Komentar negatif datang terutama dari perbedaan penampilan karakter Ariel
antara versi animasi dan live action, yang memicu perdebatan di kalangan penonton. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui posisi pembacaan dan pemaknaan gen Z terhadap penerimaan
Halle Bailey sebagai Ariel dan juga pemaknaan terhadap kontroversi yang terjadi pada film
live action The Little Mermaid (2023) yang terjadi di media sosial. Penonton film Disney
didominasi oleh generasi Z, kelompok ini menjadi objek utama dalam penelitian ini.
Dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall, penelitian ini menganalisis
bagaimana penerimaan dan pemaknaan penonton terhadap pesan yang disampaikan dalam
media tersebut. Informan penelitian berjumlah 10 orang dengan rata-rata usia 20 sampai
dengan 22 tahun dari domisili dari kota yang berbeda-beda. Analisis penelitian dilakukan
berdasarkan penetapan tiga kategori: dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional untuk
menunjukkan penerimaan reseptor terhadap nilai kecantikan yang diperankan oleh Halle
Bailey sebagai Ariel dalam live action dari karakter animasi Ariel The Little Mermaid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 10 informan berada di posisi pembacaan
oppositional karena tidak setuju dengan pemilihan Halle Bailey sebagai Ariel. Ketidaksetujuan
ini muncul akibat perubahan visual yang dianggap signifikan, serta ketidakpuasan terhadap
perbedaan penampilan dalam versi live action dibandingkan dengan animasi yang telah dikenal
sejak kecil, khususnya dalam film The Little Mermaid (1989). Sebanyak tiga informan berada
di posisi dominant-hegemonic, karena sepenuhnya mendukung pemilihan Halle Bailey sebagai
Ariel, karena sebagai langkah penting untuk mengedepankan inklusivitas dalam tampilan
kecantikan dan keberagaman ras. Sementara itu, dua informan berada di posisi negotiated,
mereka dapat memaknai pesan yang ada dalam film tersebut, tetapi juga memiliki pandangan
yang lebih kompleks dengan menerima pesan yang disampaikan tetapi terdapat pengecualian
atau aturan tersendiri yang mereka terapkan berdasarkan apa yang sudah mereka lihat dari Ariel
versi animasi.
Berdasarkan analisis terhadap ketiga posisi pembacaan tersebut, penelitian ini menyimpulkan
bahwa para informan memaknai kontroversi terjadi karena didasari dengan perubahan visual
Ariel dari versi animasi. Walaupun setiap informan memiliki penerimaan yang berbeda-beda,
mereka memaknai bajwa kehadiran Halle Bailey sebagai Ariel merupakan langkah maju dalam
memperluas pandangan tentang keberagaman dan identitas, sekaligus mengkritisi standar
kecantikan yang sempit. Para informan juga tidak setuju pada komentar negatif dan rasis di
media sosial, yang dinilai sebagai bentuk penolakan terhadap inklusivitas. | en_US |