Batik Siberkreasi Sebagai Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Medium Seni dan Budaya
Abstract
Kampung Batik Manding Siberkreasi hadir sejak tahun 2018. Konsep Kampung
Batik Manding Siberkreasi yang awalnya disebut juga sebagai Dusun Kepek I itu
kemudian menjadi salah satu program Gerakan Nasional Literasi Digital melalui
medium seni dan budaya yang unik untuk menjadi pelopor lahirnya kampung yang
sejenis.
Berfokus pada pelestarian budaya warisan bangsa yang mulai tenggelam karena
perkembangan zaman dan merosotnya fungsi batik sebagai salah satu media yang
dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan positif baik berupa pesan luhur
maupun pesan kekinian. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor
yang dapat mendukung dan menghambat berlangsungnya program pemberdayaan
masyarakat melalui medium seni dan budaya. Metodologi penelitian kualitatif yang
digunakan dalam penelitian ini metode penelitian yang berlandaskan filsafat
postpositivisme.
Kampung Batik Manding Siberkreasi merupakan bentuk kolaborasi antara
proses dan program. Faktor pendukung metode komunikasi yang diterapkan adalah
komunikasi yang bersifat dua arah, fasilitator atau penginisiasi berkompeten dalam
mendukung keberhasilan jalannya program. Kampung Batik Manding Siberkreasi
tetap mempertahankan kearifan lokal, dan bersifat terbuka untuk berjejaring
melakukan kolaborasi. Kemudian beberapa faktor penghambatnya yaitu pemasaran
yang belum bersifat stabil, karakter masyarakat yang berbeda-beda termasuk
kesadaran masyarakat yang kurang terhadap proses pelestarian batik, dan masih
banyak pihak yang belum teredukasi dengan baik terkait kegiatan membatik.
Collections
- Communication [1409]
