Analisis Persepsi Penggemar K-pop Terhadap Hibriditas Musik Dangdut dan K-pop Pada Acara “Dangdut K-pop 29ther”
Abstract
Acara “Dangdut K-Pop 29THER” yang diselenggarakan oleh Indosiar pada tahun 2024
memadukan musik dangdut dan K-Pop, dua genre dengan karakteristik budaya berbeda.
Penelitian ini menganalisis persepsi penggemar K-Pop di Yogyakarta terhadap hibriditas
budaya dalam acara “Dangdut K-Pop 29THER” menggunakan metode kualitatif deskriptif
melalui wawancara mendalam dengan lima responden yang dipilih secara purposive
sampling. Objek penelitiannya yaitu responden yang telah menonton acara “Dangdut K-Pop
29THER”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima responden memiliki persepsi positif
terhadap hibriditas budaya dalam acara ini, meskipun dengan tingkat penerimaan yang
beragam. Faktor perhatian dan faktor fungsional menjadi aspek utama yang mempengaruhi
persepsi para responden. Tiga dari lima responden berpendapat bahwa unsur K-Pop lebih
dominan dibandingkan dangdut, terutama dalam aransemen musik yang lebih bergaya pop
serta minim penggunaan teknik vokal khas dangdut seperti cengkok. Dari segi kostum dan
tata panggung, mayoritas responden menilai bahwa estetika yang ditampilkan lebih
menyerupai idol K-Pop, meskipun dalam beberapa episode masih ditemukan elemen khas
dangdut seperti busana berkilau. Acara “Dangdut K-Pop 29THER” dapat dipahami sebagai
proses negosiasi budaya dalam third space, di mana unsur-unsur dangdut dan K-Pop, seperti
bahasa Korea, rap, dan koreografi, tidak hanya digabungkan dengan musik dangdut, tetapi
juga saling beradaptasi sehingga membentuk identitas musik yang baru, tanpa menghilangkan
esensi aslinya. Acara ini menjadi contoh bagaimana hibriditas dalam media hiburan dapat
membangun apresiasi terhadap keberagaman budaya dengan tetap menjaga identitas
masing-masing.
Collections
- Communication [1409]
