Sensitivitas Interkultural Masyarakat Buddha di Dusun Sembong Kaloran Temanggung
Abstract
Toleransi merupakan hal krusial untuk negara ini, melihat dari komposisinya yang
terdiri dari berbagai macam suku dan budaya yang berbeda perselisihan antar perbedaan
kelompok sangat rentan terjadi kemudian berdampak panjang. Sesuai dengan pedoman ini
Bhinneka Tunggal Ika maka rasa saling menghargai dan menerima perbedaan adalah kunci
persatuan. Mengambil latar belakang kelompok pemeluk agama Buddha di dusun
Sembong, penelitian ini mengkaji seputar komunikasi antar budaya dengan menggunakan
pendekatan Development Model of Intercultural Sensitivity (DMIS) yang dicetuskan oleh
Milton J Bennett dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi komunikasi antar
budaya. Pemeluk agama Buddha di dsn. Sembong memiliki kompetensi pada tingkat
etnorelativisme yaitu sudah pada tahap menerima dan berintegrasi dengan budaya yang
berbeda, salah satu motivasinya adalah kesamaan budaya leluhur yang dilestarikan hingga
saat ini yaitu adat istiadat Jawa, namun dengan begitu ternyata berdampak negatif bagi
kelompok umat Buddha disana dengan menurunnya kualitas dan kuantitas pada pemeluk
agama Buddha di sana sehingga mereka mengharapkan perbaikan dari Majelis Perwakilan
Umat Buddha hingga Pemerintah untuk menunjang peningkatan sumber daya manusianya.
Collections
- Communication [1422]
