Analisis Resepsi Srikandi UGM terhadap Toxic Masculinity dalam Film Pendek Taylor Swift - All Too Well
Abstract
Selama ini masyarakat telah sering kali memberikan ekspektasi terhadap sosok laki-
laki dalam menentukan bagaimana seharusnya mereka bersikap, berpenampilan, dan
berperan dalam lingkungan sosial. Kondisi tersebut pada akhirnya membawa laki-laki
menjadi sosok yang begitu keras dan berlebihan dalam menampilkan sisi maskulinitasnya
hingga memunculkan sifat beracun yang berdampak buruk bagi orang lain serta dirinya
sendiri sebagai pelaku. Perilaku inilah yang kemudian dinamakan dengan istilah toxic
masculinity. Objek penelitian ini akan menggunakan film pendek Taylor Swift - All Too
Well dalam membantu memberikan gambaran terhadap praktik dari toxic masculinity yang
sering kali terjadi, khususnya dalam sebuah hubungan antara sepasang kekasih. Maka dari
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resepsi akan toxic masculinity
dalam film pendek Taylor Swift - All Too Well. Adapun informan yang dipilih dalam
penelitian ini adalah organisasi Srikandi UGM yang diketahui sudah aktif menyuarakan isu-
isu seputar gender sejak tahun 2008. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
ditunjang oleh pendekatan konstruktivisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh
informan berada dalam posisi negosiasi pada sebagian besar kategori yang ditampilkan
mengenai representasi bentuk toxic masculinity dalam film. Selain itu, penelitian ini turut
menunjukkan kemampuan informan dalam menerima segenap pesan, emosi, serta esensi film
sebagai media yang edukatif, khususnya dalam memberikan kesadaran akan pentingnya isu
gender terhadap masyarakat luas. Kondisi tersebut tidak terlepas dari identitas informan
sebagai seorang perempuan dan anggota dari Srikandi UGM yang sudah sejak lama
menyuarakan kepeduliannya terhadap isu gender.
Collections
- Communication [1409]
