• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Civil Engineering and Planning
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Civil Engineering and Planning
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Pemodelan Alternatif Bangunan Hunian Sementara Sebagai Evaluasi Bangunan Hunian Sementara Pada Erupsi Merapi 2010

    Thumbnail
    View/Open
    18914054 Sukarmin.pdf (3.991Mb)
    Date
    2021-02-22
    Author
    SUKARMIN
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Keberadaan Gunung Merapi selain membawa berkah ada kalanya memberikan ancaman karena bahaya letusannya. Hal ini terbukti pada tanggal 26 Oktober 2010 dimulai pukul 17.05 WIB dan tanggal 5 Nopember 2010 telah terjadi letusan/erupsi yang dahsyat. Letusan tersebut telah banyak menelan korban jiwa, ternak, lahan pertanian, hunian dan sarana prasarana bangunan serta infrastruktur lainnya. Tercatat korban Jiwa meninggal dunia ada 277 Jiwa, korban sakit luka-luka 258 orang 410.338 orang mengungsi, hewan ternak mati 1.548 ekor, 2.636 bangunan rusak berat 156 rumah rusak sedang serta 632 rumah rusak ringan, dan masih banyak bangunannya antara lain kantor Polsek, Puskesmas, gedung kantor, hotel/penginapan lahan pertanian serta infrastruktur yang tingkat kerusakannya sangat parah. Adapun Pemerintah saat itu telah melakukan langkah – langkah tanggap bencana dan tanggap darurat dengan menampung sementara korban Merapi yang berada pada kawasan KRB. Pemerintah menyediakan Hunian Sementara (HUNTARA) pada Sheltershelter yang terbuat dari bangunan semi permanen dan sederhana. Bangunan ini sebagai tempat tinggal sementara sambil menunggu kebijakan pemerintah lebih lanjut. Banyak permasalahan yang timbul berkaitan dengan pembangunan HUNTARA / Shelter, diantaranya yaitu luasan lahan, proses pembangunan, kualitas bangunan dan permasalahan sosial lainnya. Luasan lahan yang kurang dibanding kebutuhan luasan ideal menyebabkan penataan bangunan dan lingkungan terkesan dipaksakan untuk dapat menampung jumlah kepala keluarga. Dalam penelitian ini metode pengambilan data yang digunakan yaitu yang pertama pengumpulan data dukumen bangunan hunian sementara tahun 2010, yang kedua berupa survei dan wawancara yang akan digunakan untuk mengevaluasi bangunan hunian sementara pada korban erupsi gunung Merapi pada tahun 2010 dan yang yang ketiga pengumpulan data sekunder dokumentasi berupa data-data atau informasi dan foto-foto ketika melakukan survei da wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya per m pambangunan hunian sementara tipe 54 sebesar Rp 1.323.700,00, sedangkan biaya per m2 pembangunan hunian sementara tipe 36 sebesar Rp 1.599.000,00. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pembangunan hunian sementara tipe 36 lebih mahal 21% terhadap bangunan hunian sementara tipe 54. Selain itu bangunan hunian sementara yang dirancang menggunakan metode knockdown berbahan kayu sengon sebagai kayu lokal di sekitar daerah gunung Merapi lebih memiliki privasi yang lebih baik dibandingkan dengan hunian sementara yag dibangun menggunakan anayaman bambu (gedek)
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/30049
    Collections
    • Master of Civil Engineering and Planning [222]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV