• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Medicine
    • Medical Education
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Medicine
    • Medical Education
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Gambaran Masyarakat Desa Bajera Tabanan Bali Tidak Melakukan Sirkumsisi

    Thumbnail
    Date
    2012-10-24
    Author
    Antara, I Nyoman Budi
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Sirkumsisi adalah proses pembedahan untuk menghilangkan sebagian atau seluruh preputium dari penis. Pembedahan ini sudah dikerjakan selama bertahun-tahun terutama karena alasan budaya dan agama. Sirkumsisi merupakan istilah medis dan sebagian besar masyarakat sangat awam bahkan tidak pernah mendengar tentang istilah sirkumsisi, “sunat” merupakan istilah yang diketahui oleh masyarakat. Hampir semua tahu proses sunat yaitu pemotongan kulit penutup alat kelamin laki-laki. Sebagian besar mengetahui sunat ini sebagai prosesi dan tradisi wajib yang dilakukan oleh umat Muslim. Dengan sirkumsisi dikatakan pembersihan akan lebih mudah karena kotoran sering menumpuk di bawah kulit tersebut. Selain lebih mudah membersihkan alat kelamin, sirkumsisi juga dapat digunakan sebagai pencegahan suatu penyakit yaitu infeksi saluran kemih, kanker penis, posthitis, HIV dan AIDS. Disamping pencegahan sirkumsisi juga merupakan terapi yang digunakan untuk suatu kelainan pada penis, seperti phimosis dan paraphimosis. Pemahaman masyarakat Bali tentang manfaat sirkumsisi terhadap kesehatan masih rendah, karena kurangnya informasi mengenai manfaat sirkumsisi. Penerimaan masyarakat terhadap sirkumsisi bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu pandangan sirkumsisi merupakan budaya Islam dan bukan tradisi budaya Bali/Hindu, serta pandangan kalau sirkumsisi itu bukan hanya merupakan budaya Islam saja. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran atau faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat Desa Bajera, Tabanan, Bali tidak melakukan sirkumsisi. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan purpose sampling dengan subjek yang diteliti adalah masyarakat Desa Bajera Tabanan Bali. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam serta observasi. Hasil: Masyarakat Desa Bajera masih sangat awam dengan istilah sirkumsisi walau ada beberapan yang mengetahuinya, namun sangat familiar dengan istilah sunat dan semua masyarakat mengetahui istilah sunat. Pandangan masyarakat dengan sirkumsisi adalah kebudayaan umat Muslim adalah salah satu faktor sehingga masyarakat tidak melakukan sirkumsisi, selain itu tingkat pengetahuan akan manfaat sirkumsisi, dan lingkungan sosial juga mempengaruhi pemikiran dan keputusan masyarakat untuk melakukan sirkumsisi. Selain itu rasa malu dan usia menjadi faktor sehingga masyarakat tidak mau melakukan sirkumsisi. Simpulan: Analogi bahwa sirkumsisi adalah budaya umat Muslim, lingkungan, pengetahuan, rasa malu dan usia menjadi gambaran masyarakat Desa Bajera Tabanan Bali tidak melakukan sirkumsisi.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/25361
    Collections
    • Medical Education [2910]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV