Perancangan Salingka sebagai Fasilitas Agrowisata Berbasis Permakultur di Danau Diateh, Alahan Panjang untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Abstract
Kawasan Danau Diateh di Nagari Alahan Panjang, Kabupaten Solok, memiliki potensi besar sebagai destinasi agrowisata
karena didukung oleh lanskap danau, iklim pegunungan yang sejuk, serta aktivitas pertanian hortikultura yang menjadi mata
pencaharian utama masyarakat. Namun, potensi tersebut belum berkembang secara optimal akibat rendahnya integrasi
antara sektor pertanian dan pariwisata, terbatasnya fasilitas wisata yang mampu mengakomodasi aktivitas edukasi, rekreasi,
dan produksi pertanian secara terpadu, serta rendahnya nilai tambah hasil pertanian yang berdampak pada terbatasnya
peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya suatu rancangan arsitektur yang tidak
hanya menyediakan fasilitas wisata, tetapi juga mampu menghubungkan sistem produksi, edukasi, dan pemasaran hasil
pertanian dalam satu kesatuan kawasan yang berkelanjutan.
Perancangan ini bertujuan menghasilkan fasilitas agrowisata berbasis permakultur yang mampu meningkatkan kualitas ruang
wisata, mendukung produktivitas pertanian, memperkuat interaksi antara pengunjung dan masyarakat lokal, serta mendorong
pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan aktivitas pertanian bernilai tambah. Pendekatan perancangan
menggunakan konsep permakultur berdasarkan etika Earth Care, People Care, dan Fair Share, serta dua belas prinsip
desain permakultur oleh David Holmgren yang dipadukan dengan metode TRIZ (Theory of Inventive Problem Solving) untuk
mengidentifikasi kontradiksi desain dan menghasilkan strategi penyelesaian yang inovatif. Proses perancangan dilakukan
melalui analisis potensi dan permasalahan tapak, analisis kebutuhan ruang, hubungan fungsi, zonasi, sirkulasi, serta
pengembangan konsep arsitektur, struktur, lanskap, dan utilitas yang selaras dengan karakter lingkungan Danau Diateh.
Hasil perancangan berupa kawasan Salingka sebagai fasilitas agrowisata berbasis permakultur yang mengintegrasikan
fungsi edukasi, produksi, rekreasi, komersial, dan akomodasi dalam satu sistem yang saling mendukung. Rancangan
menerapkan pembagian zonasi berdasarkan tingkat aktivitas dan kontur tapak, mempertahankan kondisi alami lahan melalui
minimasi cut and fill, mengoptimalkan orientasi bangunan terhadap panorama danau serta iklim lokal, dan memanfaatkan
material lokal sebagai identitas kawasan. Penerapan prinsip-prinsip permakultur diwujudkan melalui sistem pertanian
produktif, pengelolaan sumber daya secara efisien, pemanfaatan lanskap sebagai ruang edukasi, serta integrasi aktivitas
wisata dengan proses budidaya dan pengolahan hasil pertanian. Rancangan ini diharapkan mampu meningkatkan
pengalaman wisata yang edukatif, memperkuat identitas kawasan, menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal,
serta menjadi model pengembangan agrowisata berkelanjutan yang adaptif terhadap potensi dan karakter kawasan Danau
Diateh
Collections
- Architecture [4119]
