Show simple item record

dc.contributor.authorPermatasari, Indah Permatasari 24914009
dc.date.accessioned2026-09-11T03:51:58Z
dc.date.available2026-09-11T03:51:58Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/67013
dc.description.abstractPapua dan Papua Barat Daya terletak di paling timur wilayah Indonesia. Struktur tatanan lempeng tektonik Papua dan Papua Barat Daya terletak pada pertemuan tiga lempeng kerak bumi yaitu lempeng pasifik, lempeng Hindia-Australia dan lempeng Eurasia. Kondisi ini menyebabkan Papua dan Papua Barat Daya banyak digoncang gempa bumi. Kota Sorong merupakan salah satu kota di Provinsi Papua Barat Daya. Di daerah ini terdapat sesar Sorong yang merupakan retakan besar dalam kerak bumi. Selain Sesar Sorong masih banyak sesar aktif lainnya yang berpotensi menimbulkan gempa di Pulau Papua, seperti halnya Sesar Koor dan Sesar Sorong-Yapen. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai bahaya seismik di Papua Barat Daya. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari upaya untuk mengidentifikasi bahaya seismik di Papua Barat Daya yang dilakukan berdasarkan metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis(PSHA). Tahapan analisis dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data gempa, karakterisasi sumber gempa, analisis bahaya gempa agar dapat membuat peta percepatan tanah di batuan dasar dan permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dan 10% dalam 50 tahun. Kemudian dilakukan deagregasi guna mencari magnitude dan jarak dominan untuk melakukan spectral matching dan selanjutnya dilakukan analisis respon dinamika tanah untuk mecari faktor amplifikasi, percepatan tanah di permukaan berikut respons spektra. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan periode PGA di batuan dasar untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.15 – 0.2g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.05 – 1.2g. Periode 0.2 detik di batuan dasar untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.3 sampai >3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.2 – 3g. Periode 1 detik di batuan dasar untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.15 – 2g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.05 – 1g. Kemudian periode PGA di permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.2 – 3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.1 – 3.5g. Periode 0.2 detik di permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.4 – 3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.25 – 3.5g. Periode 1 detik di permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.01 – 3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.1 – 2.5g. Klasifikasi kelas situs tanah menunjukkan Provinsi Papua Barat Daya masuk kedalam kelas situs SD, SC dan SB. Dan untuk faktor amplifikasi tanah di Kota Sorong menunjukkan adanya deamplifikasi sebesar 0.8938 untuk amplifikasi PGA serta 0.6415 untuk amplifikasi respon spektra pada gempa Coalinga. Sementara itu, pada gempa Palm Springs deamplifikasi sebesar 0.5203 untuk amplifikasi PGA serta 0.4893 untuk amplifikasi respon spektra. Adapun deamplifikasi tersebut disebabkan oleh kondisi tanah yang sangat lunak di lokasi penelitian.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectProbabilistic seismic hazard analysis (PSHA), deagregasi, spectral matching, analisis dinamika tanahen_US
dc.titleRespons Seismik Provinsi Papua Barat Daya Berdasarkan Analisis Bahaya Seismik Probabilistik: Peta, Kelas Situs, dan Faktor Amplifikasien_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM24914009


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record