Respons Seismik Provinsi Papua Barat Daya Berdasarkan Analisis Bahaya Seismik Probabilistik: Peta, Kelas Situs, dan Faktor Amplifikasi
Abstract
Papua dan Papua Barat Daya terletak di paling timur wilayah Indonesia. Struktur
tatanan lempeng tektonik Papua dan Papua Barat Daya terletak pada pertemuan tiga
lempeng kerak bumi yaitu lempeng pasifik, lempeng Hindia-Australia dan lempeng
Eurasia. Kondisi ini menyebabkan Papua dan Papua Barat Daya banyak digoncang gempa
bumi. Kota Sorong merupakan salah satu kota di Provinsi Papua Barat Daya. Di daerah ini
terdapat sesar Sorong yang merupakan retakan besar dalam kerak bumi. Selain Sesar
Sorong masih banyak sesar aktif lainnya yang berpotensi menimbulkan gempa di Pulau
Papua, seperti halnya Sesar Koor dan Sesar Sorong-Yapen. Hal tersebutlah yang
melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai bahaya
seismik di Papua Barat Daya.
Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari upaya untuk mengidentifikasi bahaya
seismik di Papua Barat Daya yang dilakukan berdasarkan metode Probabilistic Seismic
Hazard Analysis(PSHA). Tahapan analisis dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data
gempa, karakterisasi sumber gempa, analisis bahaya gempa agar dapat membuat peta
percepatan tanah di batuan dasar dan permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dan
10% dalam 50 tahun. Kemudian dilakukan deagregasi guna mencari magnitude dan jarak
dominan untuk melakukan spectral matching dan selanjutnya dilakukan analisis respon
dinamika tanah untuk mecari faktor amplifikasi, percepatan tanah di permukaan berikut
respons spektra.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan periode PGA di batuan dasar
untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.15 – 0.2g, sedangkan
probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.05 – 1.2g. Periode 0.2 detik di batuan
dasar untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.3 sampai >3.5g,
sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.2 – 3g. Periode 1 detik di
batuan dasar untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.15 – 2g,
sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.05 – 1g. Kemudian periode
PGA di permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.2 –
3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.1 – 3.5g. Periode 0.2
detik di permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.4 –
3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.25 – 3.5g. Periode 1
detik di permukaan untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun berkisar antara 0.01
– 3.5g, sedangkan probabilitas 10% dalam 50 tahun berkisar antara 0.1 – 2.5g. Klasifikasi
kelas situs tanah menunjukkan Provinsi Papua Barat Daya masuk kedalam kelas situs SD,
SC dan SB. Dan untuk faktor amplifikasi tanah di Kota Sorong menunjukkan adanya
deamplifikasi sebesar 0.8938 untuk amplifikasi PGA serta 0.6415 untuk amplifikasi respon
spektra pada gempa Coalinga. Sementara itu, pada gempa Palm Springs deamplifikasi
sebesar 0.5203 untuk amplifikasi PGA serta 0.4893 untuk amplifikasi respon spektra.
Adapun deamplifikasi tersebut disebabkan oleh kondisi tanah yang sangat lunak di lokasi
penelitian.
