| dc.contributor.author | Nabilaputri, Naiya Zahra | |
| dc.date.accessioned | 2026-09-07T07:42:02Z | |
| dc.date.available | 2026-09-07T07:42:02Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | https://dspace.uii.ac.id/123456789/66816 | |
| dc.description.abstract | Praktik pemasungan terhadap penyandang disabilitas intelektual masih
menjadi persoalan serius di Indonesia, mencerminkan kesenjangan antara
norma hukum pidana dan penegakannya. Penelitian ini mengkaji kualifikasi
pemasungan sebagai tindak pidana serta gap antara perlindungan normatif dan
implementasinya, menggunakan metode normatif dengan pendekatan
perundang-undangan, konseptual, dan kasus khususnya UU No. 8 Tahun
2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasungan memenuhi seluruh
unsur perampasan kemerdekaan berdasarkan Pasal 333 KUHP dan Pasal 446
UU No. 1 Tahun 2023, serta dikategorikan sebagai jarimah ta'zir dalam
hukum pidana Islam. Namun secara empiris, ketiga kasus terdokumentasi
(Lumajang, Cianjur, dan Lamongan) tidak satu pun berujung pada penuntutan
pidana korban hanya memperoleh rehabilitasi tanpa keadilan hukum. Sebagai
delik biasa, aparat seharusnya dapat bertindak tanpa menunggu laporan
korban. Ketidakefektifan perlindungan preventif maupun represif ini
menciptakan impunitas yang menormalisasi pelanggaran hak penyandang
disabilitas intelektual. | en_US |
| dc.publisher | Universitas Islam Indonesia | en_US |
| dc.subject | delik biasa, disabilitas intelektual, perlindungan hukum pidana, pemasungan, perampasan kemerdekaan | en_US |
| dc.title | Perlindungan Hukum Pidana terhadap Penyandang Disabilitas Intelektual sebagai Korban Pemasungan | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |
| dc.Identifier.NIM | 22410321 | |