• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Public Health
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Public Health
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Studi Komparasi Implementasi Budaya Mutu Pascaakreditasi pada Puskesmas Terakreditasi Paripurna dengan Puskesmas Terakreditasi Utama di Kabupaten Merangin

    Thumbnail
    View/Open
    24929007.pdf (2.772Mb)
    Date
    2026
    Author
    Rahmah, Maulida
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Latar Belakang: Tantangan utama dalam akreditasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) bukan sekadar pada pencapaian status, melainkan pada keberlanjutan budaya mutu pasca- akreditasi. Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, menawarkan konteks yang komparatif: Puskesmas A (perkotaan) meraih status Paripurna dan Puskesmas B (perdesaan) meraih status Utama pada tahun 2023. Tujuan: Menganalisis secara komparatif implementasi budaya mutu pasca-akreditasi di kedua Puskesmas beserta faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Metode: Penelitian kualitatif ini menggunakan rancangan studi kasus komparatif pada fase pemeliharaan siklus akreditasi (Februari 2026). Enam belas informan dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Data dianalisis secara tematik menggunakan Model Donabedian dan prinsip Continuous Quality Improvement (CQI), yang diperkuat dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil: Terdapat perbedaan kedalaman internalisasi budaya mutu di kedua fasilitas. Di Puskesmas A, nilai mutu sebagian telah terinternalisasi menjadi praktik harian yang didukung oleh kepemimpinan hands-on yang selaras serta berjalannya sistem umpan balik pasien. Sebaliknya, budaya mutu di Puskesmas B masih berada pada tingkatan artefak; friksi manajerial menghambat koordinasi tim, dan instrumen mutu formal seperti kotak saran, rapat tinjauan manajemen, dan audit internal terhenti pasca-akreditasi. Meskipun kedua institusi mengalami penurunan motivasi pasca-akreditasi (post-accreditation slump), Puskesmas A mampu memitigasi hal tersebut melalui rutinisasi dan pemantauan kinerja objektif. Kesimpulan: Status akreditasi tidak secara otomatis mencerminkan pelembagaan budaya mutu. Keberlanjutan mutu sangat bergantung pada interaksi elemen struktural dan non-struktural yang ditopang oleh empat pilar: keselarasan kepemimpinan, pelembagaan sistem CQI, fleksibilitas sumber daya, dan akuntabilitas eksternal. Oleh karena itu, pembinaan pasca-akreditasi harus bertransformasi dari sekadar pemenuhan kelengkapan dokumen menuju penguatan kapasitas kepemimpinan dan sistem perbaikan mutu berkelanjutan.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/123456789/66756
    Collections
    • Master of Public Health [5]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV