| dc.description.abstract | Rasio Non-Performing Loan (NPL) pada Swamitra KB Bank KCP Kaliurang
Yogyakarta secara persisten berada di atas ambang batas OJK (>10%) selama tiga
tahun terakhir, mengindikasikan kelemahan struktural dalam analisis kelayakan
kredit di hulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi prinsip
5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of Economy) dalam
persetujuan kredit dan mengidentifikasi kendala implementasinya pada segmen
mikro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain
studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan
dokumentasi, serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi sumber dan
teknik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa meskipun prosedur persetujuan kredit
telah berjalan sistematis, penerapan prinsip 5C belum optimal. Aspek Character
dan Collateral relatif terpenuhi, namun Capacity, Capital, dan Condition of
Economy menjadi titik terlemah akibat ketiadaan laporan keuangan formal
debitur, sehingga penilaian sangat bergantung pada estimasi dan intuisi petugas.
Kendala utama implementasi meliputi asimetri informasi, tingginya beban kerja
(workload) petugas, formulir analisis yang kurang terstandarisasi, sistem
administrasi manual, dan monitoring pasca-pencairan yang masih reaktif.
Akumulasi kendala ini menjadi akar penyebab persistensi rasio NPL. Penelitian
ini merekomendasikan digitalisasi dokumen kredit, standarisasi formulir analisis
arus kas informal, dan pergeseran menuju monitoring proaktif guna memperbaiki
kualitas portofolio kredit mikro secara berkelanjutan. | en_US |