Show simple item record

dc.contributor.authorPrasojo, Ilham Akbar Mustikojati
dc.date.accessioned2026-08-26T04:47:04Z
dc.date.available2026-08-26T04:47:04Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/66363
dc.description.abstractLahan bekas tambang emas umumnya mengalami degradasi kualitas tanah serta berpotensi tercemar logam berat, terutama merkuri (Hg), sehingga memerlukan upaya rehabilitasi untuk memulihkan kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pemanfaatan mikroorganisme tanah seperti Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara serta membantu proses fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan kualitas tanah bekas tambang emas setelah perlakuan AMF dan PGPR serta menganalisis pengaruh inokulasi AMF dan PGPR terhadap pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum frutescens L.). Penelitian dilakukan dalam kondisi terkendali di rumah kaca dengan menggunakan tanah bekas tambang emas yang berasal dari Desa Kalirejo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perlakuan yang digunakan yaitu kombinasi kompos, sekam, AMF, dan PGPR (K2 + M + P) yang dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Parameter yang diamati meliputi survival rate, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, biomassa tanaman, kadar air tanah, kandungan P2O5 tanah, serapan P2O5 tanaman, serta konsentrasi merkuri (Hg) pada tanah dan jaringan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K2 + M + P memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman cabai yang ditunjukkan oleh peningkatan survival rate hingga 100%, serta peningkatan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun pada fase awal pertumbuhan, dan biomassa tanaman dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Perlakuan tersebut juga mampu meningkatkan kandungan P2O5 tanah serta serapan P2O5 pada batang tanaman, yang mengindikasikan peran AMF dan PGPR dalam meningkatkan ketersediaan dan efisiensi pemanfaatan fosfor pada tanah terdegradasi. Namun demikian, perlakuan tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap kadar air tanah. Selain itu, perlakuan K2 + M + P menunjukkan potensi dalam menurunkan konsentrasi Hg di tanah, meskipun kadar Hg masih berada di atas ambang batas aman. Akumulasi Hg pada jaringan tanaman menunjukkan variasi, dimana konsentrasi Hg pada batang tanaman lebih tinggi dibandingkan kontrol, sedangkan pada akar tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Secara keseluruhan, kombinasi kompos, sekam, AMF, dan PGPR berpotensi sebagai strategi biofitoremediasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai serta memperbaiki kualitas tanah pada lahan bekas tambang emas. Namun demikian, optimalisasi perlakuan masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dalam menekan akumulasi logam berat pada jaringan tanaman.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAMF, PGPR, biofitoremediasi, lahan bekas tambang emas, merkuri (Hg), Capsicum frutescensen_US
dc.titleInvestigasi Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) dan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dalam Memperbarui Kualitas Tanah Bekas Tambang Emas Rakyat di Yogyakartaen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21513117


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record