Investigasi Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) dan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dalam Memperbarui Kualitas Tanah Bekas Tambang Emas Rakyat di Yogyakarta
Abstract
Lahan bekas tambang emas umumnya mengalami degradasi kualitas tanah serta berpotensi
tercemar logam berat, terutama merkuri (Hg), sehingga memerlukan upaya rehabilitasi untuk
memulihkan kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Salah satu pendekatan yang
dapat digunakan adalah pemanfaatan mikroorganisme tanah seperti Arbuscular Mycorrhizal Fungi
(AMF) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang berperan dalam meningkatkan
ketersediaan unsur hara serta membantu proses fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi perubahan kualitas tanah bekas tambang emas setelah perlakuan AMF dan PGPR
serta menganalisis pengaruh inokulasi AMF dan PGPR terhadap pertumbuhan tanaman cabai
(Capsicum frutescens L.). Penelitian dilakukan dalam kondisi terkendali di rumah kaca dengan
menggunakan tanah bekas tambang emas yang berasal dari Desa Kalirejo, Kabupaten Kulon
Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perlakuan yang digunakan yaitu kombinasi kompos, sekam,
AMF, dan PGPR (K2 + M + P) yang dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Parameter yang
diamati meliputi survival rate, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, biomassa tanaman,
kadar air tanah, kandungan P2O5 tanah, serapan P2O5 tanaman, serta konsentrasi merkuri (Hg) pada
tanah dan jaringan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K2 + M + P
memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman cabai yang ditunjukkan oleh
peningkatan survival rate hingga 100%, serta peningkatan tinggi tanaman, diameter batang,
jumlah daun pada fase awal pertumbuhan, dan biomassa tanaman dibandingkan dengan perlakuan
kontrol. Perlakuan tersebut juga mampu meningkatkan kandungan P2O5 tanah serta serapan P2O5
pada batang tanaman, yang mengindikasikan peran AMF dan PGPR dalam meningkatkan
ketersediaan dan efisiensi pemanfaatan fosfor pada tanah terdegradasi. Namun demikian,
perlakuan tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap kadar air tanah. Selain
itu, perlakuan K2 + M + P menunjukkan potensi dalam menurunkan konsentrasi Hg di tanah,
meskipun kadar Hg masih berada di atas ambang batas aman. Akumulasi Hg pada jaringan
tanaman menunjukkan variasi, dimana konsentrasi Hg pada batang tanaman lebih tinggi
dibandingkan kontrol, sedangkan pada akar tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Secara
keseluruhan, kombinasi kompos, sekam, AMF, dan PGPR berpotensi sebagai strategi
biofitoremediasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai serta memperbaiki kualitas
tanah pada lahan bekas tambang emas. Namun demikian, optimalisasi perlakuan masih diperlukan
untuk meningkatkan efektivitas dalam menekan akumulasi logam berat pada jaringan tanaman.
Collections
- Environmental Engineering [1887]
