Interpolasi curah hujan daerah tanpa pengamatan menggunakan metode Ordinary Kriging
Abstract
Curah hujan merupakan salah satu parameter cuaca dan iklim yang
berpengaruh penting terhadap berbagai aktivitas manusia serta potensi bencana
hidrometeorologi. Informasi curah hujan diperlukan dalam bidang pertanian,
pengelolaan sumber daya air, hingga mitigasi bencana seperti banjir dan longsor.
Namun, keterbatasan jumlah dan persebaran pos hujan menyebabkan data curah
hujan tidak tersedia pada seluruh lokasi pengamatan. Oleh karena itu, diperlukan
metode interpolasi spasial untuk menduga nilai curah hujan pada daerah tanpa
pengamatan dengan memanfaatkan hubungan spasial antar lokasi. Penelitian ini
menggunakan data curah hujan tahun 2025 dari 25 pos hujan yang tersebar di
Wilayah Sungai Cisadea–Cibareno. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola curah
hujan di Wilayah Sungai Cisadea–Cibareno mengikuti pola monsoonal, yaitu curah
hujan meningkat pada akhir hingga awal tahun dan menurun pada pertengahan
tahun. Berdasarkan hasil uji asumsi, hanya lima bulan yang memenuhi kriteria
untuk dilakukan analisis menggunakan ordinary kriging. Model semivariogram
teoritis terbaik yang diperoleh yaitu model gaussian pada bulan Maret, model
eksponensial pada bulan Mei, serta model spherical pada bulan Agustus, Oktober,
dan November. Nilai parameter nugget, sill, dan range berturut-turut pada bulan
Maret sebesar 2164.9, 14200.9, dan 54899.8, bulan Mei sebesar 0, 5360.5, dan
9971.4, bulan Agustus sebesar 0, 9132.6, dan 35341.4, bulan Oktober sebesar
3414.1, 91904.4 dan 831149.9, serta bulan November sebesar 2687.7, 227492.3
dan 763544.0. Nilai MAPE yang diperoleh berturut-turut sebesar 23.64% pada
bulan Maret, 16.76% pada bulan Mei, 23.79% pada bulan Agustus, 20.46% pada
bulan Oktober, dan 22.29% pada bulan November. Berdasarkan nilai MAPE
tersebut, prediksi terbaik diperoleh pada bulan Mei karena memiliki tingkat
kesalahan paling kecil dibandingkan bulan lainnya.
Collections
- Statistics [1327]
