Faktor-Faktor yang Memengaruhi Niat Adopsi Teknologi Blockchain dalam Pengelolaan Keuangan Publik: Studi Kasus pada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
Abstract
Pengelolaan keuangan publik di daerah masih menghadapi kelemahan dalam
transparansi dan akuntabilitas, meskipun digitalisasi melalui berbagai sistem informasi telah
dilakukan. Teknologi Blockchain menawarkan solusi melalui karakteristik desentralisasi,
transparansi, dan imutabilitas yang berpotensi meningkatkan kualitas tata kelola keuangan
daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi Niat
Adopsi teknologi Blockchaindalam pengelolaan keuangan publik pada Pemerintah Kabupaten
Kutai Kartanegara. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei.
Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling terhadap 62 Aparatur Sipil
Negara (ASN) yang terlibat langsung dalam perencanaan, pengelolaan, pelaporan, dan
pengawasan keuangan daerah, dengan masa kerja minimal satu tahun, yang bertugas di tiga
instansi strategis: BPKAD, Bapenda, dan Inspektorat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Mayoritas responden berasal dari Inspektorat Daerah (40,3%) dan memiliki masa kerja >10
tahun (61,3%). Model penelitian mengacu pada teori Diffusion of Innovations (DOI) yang
dimodifikasi dengan memasukkan variabel Relative Advantage, Complexity, Stakeholders,
Laws and Regulations, Top Management Support, dan Competency. Analisis data
menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil
penelitian menunjukkan model memiliki daya jelaskan yang kuat (R2 = 0,762) dan kemampuan
prediktif yang baik (Q2 = 0,503). Stakeholders dan Competency terbukti berpengaruh
signifikan dan paling besar terhadap Niat Adopsi, diikuti oleh Laws and Regulations.
Sebaliknya, Relative Advantage dan Top Management Support berpengaruh signifikan namun
relatif kecil, sedangkan Complexity tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Secara
teoretis, penelitian ini membuktikan bahwa faktor eksternal (stakeholders) dan kapasitas SDM
(kompetensi) lebih dominan daripada karakteristik teknologi dalam adopsi Blockchain di
sektor publik daerah. Secara praktis, temuan ini memberikan landasan empiris bagi pemerintah
daerah dalam merancang strategi implementasi Blockchain yang berorientasi pada penguatan
kompetensi ASN, harmonisasi regulasi, dan pelibatan pemangku kepentingan guna
meningkatkan transparansi dan akuntabilitas keuangan publik.
Collections
- Master of Accountancy [325]
