Dari Traditional ke Trendy : Strategi Pengembangan Dimsum dengan Inovasi Saus Kreatif
Abstract
Tugas Akhir Perintisan Bisnis ini bertujuan untuk mengevaluasi strategi
perintisan bisnis kuliner inovatif "Dimsauce" di Yogyakarta, menguji ketepatan
kalkulasi HPP menggunakan metode cost-plus pricing, mengukur tingkat
profitabilitas operasional, serta kepatuhan usaha terhadap prinsip ekonomi Islam.
Dimsauce beroperasi secara daring dengan model bisnis membeli bahan baku
dimsum frozen food yang memanfaatkan sistem prapesan (pre-order) dan prinsip
JIT guna meminimalkan risiko penumpukan stok
Metode penulisan dalam pengumpulan data menggunakan survei deskriptif
kuantitatif melalui penyebaran kuesioner digital (Google Form). Survei ini
bertujuan untuk membaca preferensi konsumen, menguji potensi pasar, dan
menentukan harga jual yang diinginkan konsumen sebelum produk resmi
diluncurkan. Metode analisis data menggunakan analisis kuantitatif akuntansi
keuangan. Data penjualan harian yang dikumpulkan selama masa berjualan diolah
menjadi laporan keuangan baku.
Hasil analisis keuangan menunjukkan keunikan biaya pada masing-masing
varian produk karena adanya perbedaan bahan baku saus homemade. Nilai HPP
terkecil tercatat pada varian Original sebesar Rp10.054, varian Hot Lava
(Rp10.654), Bolognese (Rp10.729), Mentai (Rp11.244), dan Carbonara
(Rp11.949). Kemudian, penetapan harga jual sebesar Rp12.000 untuk varian
Original dan Rp15.000 untuk seluruh varian saus premium, Dimsauce membukukan
rata-rata margin keuntungan bersih yang sehat sebesar 24,13% dari akumulasi harga
jual gabungan Rp14.400 terhadap rata-rata HPP Rp10.926 per porsi. Rintisan ini
mencapai titik impas sejak bulan pertama bisnis berjalan. Berdasarkan pandangan
Ekonomi Islam, operasional Dimsauce telah menerapkan nilai-nilai syariah melalui
asas keadilan, akad salam, dan pemenuhan jaminan kehalalan dan kethayyiban
produk.
Collections
- Islamic Economics [1180]
