Prarancangan Pabrik Bioavtur dari Minyak Jelantah dengan Kapasitas 210.000 Ton/Tahun
Abstract
Meningkatnya kebutuhan bahan bakar penerbangan serta tuntutan penurunan emisi
karbon mendorong pengembangan bahan bakar alternatif berbasis sumber daya
terbarukan. Salah satu bahan bakar alternatif yang potensial adalah bioavtur yang
dapat diproduksi dari minyak jelantah atau Waste Cooking Oil (WCO). Minyak
jelantah dipilih sebagai bahan baku karena mengandung trigliserida dan asam
lemak rantai panjang, seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam palmitat, serta
tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan. Pada tugas akhir ini dilakukan
prarancangan pabrik bioavtur dari minyak jelantah dengan kapasitas 210.000
ton/tahun. Proses produksi dilakukan melalui tahap pretreatment bahan baku untuk
menstabilkan kualitas WCO sebelum masuk ke proses utama. Tahap ini bertujuan
untuk mengurangi pengaruh variasi kualitas minyak jelantah, terutama terhadap
kadar air, padatan, FFA, pengotor, serta komposisi asam lemak. Selanjutnya, WCO
dan hidrogen dipanaskan hingga berada dalam fase uap sebelum masuk reaktor agar
reaksi berlangsung lebih stabil, risiko perubahan fase mendadak dapat
diminimalkan, dan pressure drop proses dapat dikendalikan. Proses utama terdiri
dari hydrotreating atau hydrodeoxygenation menggunakan katalis NiMo/Al2O3,
kemudian dilanjutkan dengan hydrocracking dan hydroisomerization menggunakan
katalis Pt/SAPO-11 untuk menghasilkan fraksi hidrokarbon yang sesuai dengan
karakteristik bahan bakar penerbangan. Reaksi berlangsung secara kontinu di dalam
Fixed Bed Multitube Reactor pada suhu 405°C dan tekanan 30 atm. Kebutuhan
bahan baku minyak jelantah sebesar 26.515,15 kg/jam dan hidrogen sebesar 641,15
kg/jam. Pabrik direncanakan berlokasi di Kawasan Sungai Ular, Kecamatan
Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, dengan
mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, akses transportasi, kedekatan dengan
Bandara Internasional Kualanamu dan Pelabuhan Belawan, ketersediaan utilitas,
serta potensi tenaga kerja. Berdasarkan analisis ekonomi, diperoleh total biaya
produksi sebesar Rp12.058.718.875.378,80 per tahun dengan total penjualan
sebesar Rp13.264.590.762.916,70 per tahun. Keuntungan sebelum pajak yang
diperoleh sebesar Rp1.205.871.887.537,88 per tahun, sedangkan keuntungan
setelah pajak sebesar Rp940.580.072.279,55 per tahun. Berdasarkan hasil analisis
teknis dan ekonomi tersebut, prarancangan pabrik bioavtur dari minyak jelantah ini
memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai industri bahan bakar penerbangan
berbasis energi terbarukan.
Collections
- Chemical Engineering [1392]
