Perbandingan Algoritma Machine Learning untuk Analisis Sentimen Terhadap Mobil Listrik di Media Sosial (Studi Kasus : Ulasan Masyarakat di YouTube dan TikTok)
Abstract
Perkembangan mobil listrik di Indonesia semakin meningkat seiring dengan
upaya pemerintah dalam mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan.
Seiring dengan hal tersebut, masyarakat banyak menyampaikan pendapat melalui
media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen masyarakat
terhadap mobil listrik berdasarkan komentar pada YouTube dan TikTok serta
membandingkan performa algoritma Regresi Logistik dan SVM.
Data diperoleh melalui web scraping komentar, kemudian melalui tahap
preprocessing yang meliputi case folding, remove punctuation, tokenisasi,
normalisasi, stopword removal, dan stemming. Selanjutnya dilakukan identifikasi
buzzer untuk memisahkan komentar yang tidak merepresentasikan opini asli
pengguna. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar data merupakan
non-buzzer, dan perbandingan analisis menunjukkan bahwa keberadaan buzzer
tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap distribusi sentimen, topik
pembahasan, maupun performa model klasifikasi.
Pelabelan sentimen dilakukan menggunakan metode AFINN dengan dua
kategori, yaitu positif dan negatif. Representasi teks menggunakan TF-IDF, serta
dilakukan random oversampling untuk mengatasi ketidakseimbangan data.
Evaluasi model menggunakan confusion matrix dengan metrik akurasi, presisi,
recall, F1-score, TNR, dan G-Mean.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen masyarakat pada kedua
platform didominasi oleh sentimen positif. Pada data YouTube, model Regresi
Logistik menunjukkan performa terbaik dengan akurasi hingga 0.87 dan G-Mean
0.81, sementara SVM mencapai akurasi 0.86. Pada data TikTok, model SVM
menunjukkan performa terbaik dengan akurasi sebesar 0.91 dan G-Mean 0.71.
Perbandingan antara data dengan buzzer dan tanpa buzzer menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan performa yang signifikan, meskipun pada beberapa
metrik seperti TNR dan G-Mean, data dengan buzzer pada platform YouTube
cenderung lebih seimbang dalam mendeteksi kelas negatif. Secara umum, kedua
algoritma memiliki performa yang baik, meskipun deteksi sentimen negatif masih
menjadi tantangan akibat ketidakseimbangan data.
Collections
- Statistics [1327]
