Show simple item record

dc.contributor.authorHerayjat, Akbar
dc.date.accessioned2026-08-04T04:20:50Z
dc.date.available2026-08-04T04:20:50Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/65528
dc.description.abstractPendahuluan: Stroke menjadi masalah kesehatan yang penting di Indonesia karena berkontribusi besar terhadap kematian, kecacatan jangka panjang, dan beban pelayanan kesehatan. Penanganan stroke bergantung pada kemampuan mengenali gejala awal. Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kediri dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki beban stroke yang relevan serta perbedaan kepadatan penduduk dan akses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan stroke, tingkat pengetahuan antar wilayah, serta menganalisis hubungan faktor demografi dengan tingkat pengetahuan stroke. Metode: Observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive pada masyarakat umum di kelurahan/desa terpilih. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Stroke Knowledge Test yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis dilakukan secara deskriptif, dilanjutkan dengan uji chi-square atau uji Fisher’s exact, serta regresi logistik dengan tingkat signifikansi 10%. Hasil: Proporsi memadai pengetahuan total adalah 47,6%, sedangkan gejala dan respons adalah 48,6%. Sebaliknya, proporsi memadai lebih tinggi pada definisi dan faktor risiko (54,7%), serta prevalensi dan penatalaksanaan (57,6%). Temuan ini menunjukkan keterbatasan dalam mengenali gejala dan respons. Tidak terdapat perbedaan pada pengetahuan total (p=0,396), gejala dan respons (p=0,234), definisi dan faktor risiko (p=0,686), serta prevalensi dan penatalaksanaan (p=0,768). Namun, perbedaannya tampak pada konteks perkotaan dan perdesaan, khususnya pada pengetahuan total (p=0,035), gejala dan respons (p=0,047), serta prevalensi dan penatalaksanaan (p=0,004), sedangkan definisi dan faktor risiko tidak bermakna (p=0,612), dengan kecenderungan wilayah perkotaan memiliki pengetahuan lebih baik. Faktor yang terindikasi bermakna di Sleman adalah sumber informasi (p=0,036), sedangkan di Kediri adalah jenis kelamin (p=0,081), pendidikan (p=0,065), usia (p=0,061), pengalaman (p=0,073), dan pendapatan (p=0,030). Pada pengetahuan total, faktor yang berhubungan di Sleman adalah sumber informasi (p=0,092) dan pengalaman (p=0,088), sedangkan di Kediri adalah jenis kelamin (p=0,036), pengalaman (p=0,056), dan pendapatan (p=0,095). Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa edukasi stroke fase pra-rumah sakit perlu diarahkan pada pengenalan gejala dan respons awal yang disesuaikan dengan demografi dan wilayah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectStrokeen_US
dc.subjectStroke Knowledge Testen_US
dc.subjectPra-rumah Sakiten_US
dc.subjectDemografien_US
dc.subjectMasyarakaten_US
dc.titlePengukuran Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Stroke: Perbandingan di Dua Kota di Indonesiaen_US
dc.typeThesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record