Pengukuran Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Stroke: Perbandingan di Dua Kota di Indonesia
Abstract
Pendahuluan: Stroke menjadi masalah kesehatan yang penting di Indonesia karena
berkontribusi besar terhadap kematian, kecacatan jangka panjang, dan beban
pelayanan kesehatan. Penanganan stroke bergantung pada kemampuan mengenali
gejala awal. Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kediri dipilih sebagai lokasi
penelitian karena memiliki beban stroke yang relevan serta perbedaan kepadatan
penduduk dan akses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
tingkat pengetahuan stroke, tingkat pengetahuan antar wilayah, serta menganalisis
hubungan faktor demografi dengan tingkat pengetahuan stroke.
Metode: Observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel
dilakukan secara purposive pada masyarakat umum di kelurahan/desa terpilih. Data
dikumpulkan menggunakan kuesioner Stroke Knowledge Test yang telah dilakukan
uji validitas dan reliabilitas. Analisis dilakukan secara deskriptif, dilanjutkan
dengan uji chi-square atau uji Fisher’s exact, serta regresi logistik dengan tingkat
signifikansi 10%.
Hasil: Proporsi memadai pengetahuan total adalah 47,6%, sedangkan gejala dan
respons adalah 48,6%. Sebaliknya, proporsi memadai lebih tinggi pada definisi dan
faktor risiko (54,7%), serta prevalensi dan penatalaksanaan (57,6%). Temuan ini
menunjukkan keterbatasan dalam mengenali gejala dan respons. Tidak terdapat
perbedaan pada pengetahuan total (p=0,396), gejala dan respons (p=0,234), definisi
dan faktor risiko (p=0,686), serta prevalensi dan penatalaksanaan (p=0,768).
Namun, perbedaannya tampak pada konteks perkotaan dan perdesaan, khususnya
pada pengetahuan total (p=0,035), gejala dan respons (p=0,047), serta prevalensi
dan penatalaksanaan (p=0,004), sedangkan definisi dan faktor risiko tidak
bermakna (p=0,612), dengan kecenderungan wilayah perkotaan memiliki
pengetahuan lebih baik. Faktor yang terindikasi bermakna di Sleman adalah sumber
informasi (p=0,036), sedangkan di Kediri adalah jenis kelamin (p=0,081),
pendidikan (p=0,065), usia (p=0,061), pengalaman (p=0,073), dan pendapatan
(p=0,030). Pada pengetahuan total, faktor yang berhubungan di Sleman adalah
sumber informasi (p=0,092) dan pengalaman (p=0,088), sedangkan di Kediri
adalah jenis kelamin (p=0,036), pengalaman (p=0,056), dan pendapatan (p=0,095).
Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa edukasi stroke fase pra-rumah sakit
perlu diarahkan pada pengenalan gejala dan respons awal yang disesuaikan dengan
demografi dan wilayah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Collections
- Master of Pharmacy [52]
