Show simple item record

dc.contributor.authorRahmaniar, Apri Sabila
dc.date.accessioned2026-07-29T03:25:50Z
dc.date.available2026-07-29T03:25:50Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/65089
dc.description.abstractLatar belakang: Fenomena adulterasi produk jamu kuat melalui penambahan bahan kimia obat (BKO) sildenafil dan/ atau tadalafil menjadi perhatian karena dapat menjadi masalah kesehatan serius bagi masyarakat seperti sakit kepala, gangguan penglihatan, hingga kematian. Surveilans Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2024 menemukan jamu kuat yang mengandung sildenafil sitrat dan/ atau tadalafil pada sarana ilegal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi profil keberadaan sildenafil sitrat dan/atau tadalafil pada produk jamu kuat yang beredar di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta serta untuk menentukan kadar dalam berbagai sediaan. Metode: Surveilans dilakukan di daerah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria: berbagai sediaan berlogo jamu, klaim penambah stamina pria, mencantumkan komposisi jamu, dengan/ tanpa nomor izin edar (NIE), terdaftar/ tidak terdaftar di BPOM, dan diperoleh bebas tanpa resep. Penetapan kadar menggunakan instrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan deteksi UV (KCKT-UV) dengan kondisi kolom C18, fase gerak asetonitril: dapar fosfat 0,020 M pH 3 (50:50), panjang gelombang yang digunakan yaitu 220 nm, volume injeksi 20 μL, kecepatan alir 1 mL/min. Kadar BKO dihitung dengan menggunakan kurva baku yang dihasilkan. Hasil: Didapatkan 33 sampel jamu kuat dari Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta sebanyak 28 sampel (84,84%) mencantumkan NIE fiktif. Analisis KCKT-UV menunjukkan 27 sampel positif mengandung sildenafil sitrat (tidak ada tadalafil) dengan temuan terbanyak pada sediaan kapsul yang berasal dari Kabupaten Sleman. Didapatkan rata-rata kadar (%b/b) sildenafil sitrat sediaan serbuk 7,60% ± 6,68, kapsul 16,33% ± 5,73, sirup 0,18% ± 0,003. Kadar BKO tertinggi ditemukan pada sampel kapsul S-13 dan terendah pada sampel sirup S-03. Kesimpulan: Penelitian ini mengonfirmasi tingginya prevalensi adulterasi pada produk jamu kuat dengan hasil temuan surveilans di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta dengan produk mayoritas mencantumkan NIE fiktif. Ditemukan wilayah dengan jumlah temuan BKO terbanyak yaitu Kabupaten Sleman.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAdulterasien_US
dc.subjectJamu kuaten_US
dc.subjectKCKT-UVen_US
dc.subjectSildenafil sitraten_US
dc.subjectTadalafilen_US
dc.titleSurveilans Adulterasi Pada Produk Jamu Kuat Di Pasar Lokal Menggunakan KCKT-UVen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22613258


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record