Surveilans Adulterasi Pada Produk Jamu Kuat Di Pasar Lokal Menggunakan KCKT-UV
Abstract
Latar belakang: Fenomena adulterasi produk jamu kuat melalui penambahan
bahan kimia obat (BKO) sildenafil dan/ atau tadalafil menjadi perhatian karena
dapat menjadi masalah kesehatan serius bagi masyarakat seperti sakit kepala,
gangguan penglihatan, hingga kematian. Surveilans Daerah Istimewa Yogyakarta
tahun 2024 menemukan jamu kuat yang mengandung sildenafil sitrat dan/ atau
tadalafil pada sarana ilegal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi profil keberadaan sildenafil
sitrat dan/atau tadalafil pada produk jamu kuat yang beredar di Kabupaten Sleman
dan Kota Yogyakarta serta untuk menentukan kadar dalam berbagai sediaan.
Metode: Surveilans dilakukan di daerah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta
menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria: berbagai sediaan
berlogo jamu, klaim penambah stamina pria, mencantumkan komposisi jamu,
dengan/ tanpa nomor izin edar (NIE), terdaftar/ tidak terdaftar di BPOM, dan
diperoleh bebas tanpa resep. Penetapan kadar menggunakan instrumen
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan deteksi UV (KCKT-UV) dengan kondisi
kolom C18, fase gerak asetonitril: dapar fosfat 0,020 M pH 3 (50:50), panjang
gelombang yang digunakan yaitu 220 nm, volume injeksi 20 μL, kecepatan alir 1
mL/min. Kadar BKO dihitung dengan menggunakan kurva baku yang dihasilkan.
Hasil: Didapatkan 33 sampel jamu kuat dari Kabupaten Sleman dan Kota
Yogyakarta sebanyak 28 sampel (84,84%) mencantumkan NIE fiktif. Analisis
KCKT-UV menunjukkan 27 sampel positif mengandung sildenafil sitrat (tidak ada
tadalafil) dengan temuan terbanyak pada sediaan kapsul yang berasal dari
Kabupaten Sleman. Didapatkan rata-rata kadar (%b/b) sildenafil sitrat sediaan
serbuk 7,60% ± 6,68, kapsul 16,33% ± 5,73, sirup 0,18% ± 0,003. Kadar BKO
tertinggi ditemukan pada sampel kapsul S-13 dan terendah pada sampel sirup S-03.
Kesimpulan: Penelitian ini mengonfirmasi tingginya prevalensi adulterasi pada
produk jamu kuat dengan hasil temuan surveilans di Kabupaten Sleman dan Kota
Yogyakarta dengan produk mayoritas mencantumkan NIE fiktif. Ditemukan
wilayah dengan jumlah temuan BKO terbanyak yaitu Kabupaten Sleman.
Collections
- Pharmacy [2101]
